Teladan Nabi: Kehadiran Empati dari Para Pemimpin Negeri
Oleh: Haji Boy Dahlan De
Mengutip artikel CNBC Indonesia berjudul “Wamendagri Bongkar Alasan Gubernur Kaltim ke Singapura saat Karhutla“, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) buka suara mengenai keberadaan Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Rudy Mas’ud, di Singapura di tengah sorotan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut.
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto mengatakan bahwa Gubernur Kaltim telah mengajukan permohonan izin kepada Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian untuk pergi ke Singapura guna menjalani pemeriksaan kesehatan. Permohonan tersebut telah disetujui dengan sejumlah catatan.
“Ya, Pak Gubernur Kaltim sudah menyampaikan permohonan izin kepada Pak Mendagri. Karena memang beliau menyampaikan perlu cek kesehatan, ya Pak Mendagri sudah izinkan sebetulnya,” ujar Bima saat ditemui di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Rabu (14/10/2026) (cnbcindonesia.com).
Bukan hanya karhutla, kebakaran pemukiman, kekeringan, banjir bandang, gunung meletus, dan bencana alam lainnya silih berganti terjadi. Masyarakat dan para pemimpin harus solid—baik yang terkena bencana maupun yang tidak terdampak—dengan satu kata kunci: empati. Rasa empati inilah yang harus dihadirkan di tengah musibah saat ini.
Empati adalah kemampuan untuk memahami apa yang dirasakan orang lain, melihat sesuatu dari sudut pandang mereka, serta membayangkan diri sendiri berada di posisi tersebut. Empati memainkan peran penting dalam membangun dan menjaga hubungan antarsesama manusia.
Menurut Alodokter.com, terdapat beberapa ciri yang menunjukkan seseorang memiliki tingkat empati tinggi, antara lain: Memiliki rasa peduli yang tinggi terhadap orang lain; Merupakan pendengar yang baik; Memahami perasaan orang lain dengan baik; Sering menjadi tempat curhat dan penasihat masalah orang lain; Sering memikirkan perasaan orang lain; Sering merasa terbebani oleh peristiwa-peristiwa tragis; Selalu mencoba membantu orang lain yang kesusahan; Mudah mengetahui ketika seseorang berkata tidak jujur; serta Terkadang merasa lelah atau kewalahan ketika berada dalam situasi sosial.
Empati kerap kali disamakan dengan simpati, padahal perbedaan mendasarnya terletak pada cara mengungkapkannya. Empati berarti seseorang ingin dan mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain, sedangkan simpati hanya sebatas mengerti atau memahami perasaan tersebut tanpa ikut merasakannya secara mendalam (Alodokter.com).
Meneladani Kepemimpinan Rasulullah SAW dan Para Sahabat
Salah satu sifat wajib Rasulullah SAW yang bertransformasi menjadi aksi empati nyata dalam kepemimpinan Umar bin Khattab adalah sifat Al-Amin (Amanah) menjadi pemimpin yang lenyap tidur malamnya. Keteladanan Rasulullah SAW tampak dari pribadi yang paling bertanggung jawab atas umatnya; Beliau sering menahan lapar demi memastikan orang lain bisa makan.

