KESEHATAN,TIMELINES.ID- Sarapan pagi bagi sebagian anak ada yang mudah untuk diberikan ada pula yang sulit, tapi bagi bunda yang memiliki anak yang sulit diberikan sarapan pagi simak penjelasan ini.

Dilansir dari Hellosehat.com, berikut cara menghadapi anak yang malas sarapan agar mau makan di pagi hari.

1. Jangan memaksa

Meski anak malas makan pagi, jangan pernah sekali-sekali memaksanya makan.

Dokter Spesialis Anak, I Gusti Lanang Sidiartha, menjelaskan bahwa anak bisa merasa stres kalau orangtua memaksa sarapan.

“Orangtua boleh mengatur menu sarapan anak, tetapi biarkan anak mengambil makanannya sendiri,” jelasnya saat tim Hello Sehat temui di fX Sudirman, Jakarta Pusat pada Kamis (21/2).

Baca Juga  7 Penyebab Penyakit Ginjal, Nomor 2 Sangat Rentan

Meski merasa malas, buat anak nyaman saat sarapan, biarkan si kecil makan langsung banyak atau sedikit demi sedikit, yang penting bukan dengan paksaan orangtua.

Namun, ini bukan berarti Anda boleh membiarkan anak makan sambil bermain, menonton TV, atau berlarian.

Distraksi atau gangguan semacam ini hanya akan membuat anak lebih fokus pada aktivitas lainnya, bukan menghabiskan makanan.

Hal yang paling penting adalah pastikan anak merasa nyaman saat sarapan. Ambil contoh, ayah atau ibu bisa menemani anak menghabiskan sarapannya.

Orangtua bisa juga menyiapkan menu sarapan yang menarik sehingga anak bersemangat untuk sarapan.

Semakin anak merasa nyaman, lambat laun si kecil akan terbiasa untuk sarapan dengan keinginannya sendiri.

Baca Juga  Jerawat Sering Muncul, Kenali Penyakit Sistem Ekskresi Pada Tubuh

2. Berikan contoh yang baik

Anak adalah peniru ulung, ia akan mengikuti kebiasaan orang yang ada di lingkungannya.

Jadi, kalau anak malas sarapan, mungkin ayah atau ibu terbiasa untuk melewatkan makan pagi.

Menurut Dokter Spesialis Gizi Klinik, Raissa E. Djuanda, M. Gizi, Sp. GK, selaku dokter spesialis gizi klinik, orangtua perlu memberi contoh kebiasaan sarapan pada anak.

“Kalau anaknya saja yang dipaksa, ia akan berpikir, kok, saya (anak) sendiri yang makan tapi orangtua tidak. Jadi, peran orangtua juga sangat penting,” ungkap dr. Raissa.