BANGKA, TIMELINES.ID — Seorang bocah berusia 6 tahun asal Kecamatan Pemali, Kabupaten Bangka mendapat perlakuan tak layak dari seorang oknum dokter saat sedang menjalani proses khitanan.

Bocah yang ketakutan saat menjalani proses khitanan terus menangis sehingga dirinya sempat dibentak oknum dokter sebanyak dua kali.

Tak kunjung reda, bocah ini terus menangis hingga saat proses jahitan di bagian kelaminnya, dirinya mendapat sebuah tamparan yang keras di bagian perutnya hingga meninggalkan bekas luka kemerahan membentuk 5 jari orang dewasa.

SIL, ibu korban kepada timelines.id Kamis pagi (22/6/2023) menceritakan kronologis kejadian tersebut saat dia bersama suaminya Karnadi mengantar sang buah hati menjalani khitanan gratis yang diprogramkan oleh dokter tersebut kepada masyarakat.

Baca Juga  Bertajuk Jalan Sehat, Pedagang dan Ribuan Warga Koba Antusias Rayakan HUT ke-21 Bateng

“Jam 07.30 WIB kami datang ke rumah dokter itu di belakang kantor Golkar. Ikut antre sebelumnya ada teman anak saya juga yang disunat. Sama nangis juga. Tapi anak saya memang nangisnya lama gak berhenti karena takut,” jelasnya.

Awalnya SIL menceritakan ia dan suaminya sempat mendengar sang dokter membentak anaknya sebanyak dua kali dengan nada keras.

“Diam. Kuat yuk suaranya keras sekali. Kami masih diam. Mikirnya wajar. Dua kali dia bentak. Banyak yang lihat. Suami saya, temen yang habis disunat itu juga masih ada di situ dan istri pak dokter ada di dalam ruangan tersebut,” cerita SIL.

Sampe proses khitanan dilakukan, Silpi menerangkan kalau anaknya masih terus menangis. Hingga pada saat proses penjahitan kedua.

Baca Juga  Petugas IBM di Sungailiat Diajak Dorong Kegiatan Positif Mantan Pengguna Narkoba

“Kan lagi dijahit. Anak saya masih nangis juga. Tiba tiba dokter itu melayangkan tamparan keras ke bagian perut anak saya. Sampai merah bercap 5 jari. Saya kaget melihat tamparan dan mendengar suaranya keras celeper,” lanjutnya.

Diperlakukan seperti itu, bocah yang mau masuk SD ini masih terus menangis. Hingga dokter menyelesaikan jahitan keempat, anaknya mulai diam.