BANGKA, TIMELINES.ID – Polemik tradisi wisuda di kalangan pelajar hingga saat ini masih dikeluhkan pihak orang tua murid.

Sayangnya di tengah tengah kemelut keberatan para orang tua yang harus mengeluarkan budget yang tidak sedikit untuk prosesi acara wisuda di jenjang bangku sekolah TK hingga SMA, belum mendapat respon dari pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga.

Polemik penolakan tradisi wisuda di kalangan pelajar ternyata juga mempengaruhi esensi wisuda yang merupakan upacara atau acara resmi secara akademik untuk melantik mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan untuk mendapat gelar sarjana.

Hal ini dikatakan Dosen Fakultas Sosiologi Universitas Negeri Bangka Belitung, Dr. Fitri Harahap kepada timelines.id Kamis (22/6/2023).

Baca Juga  Tenggak Miras di Simpang Tugu Duren Mentok, Tiga Pemuda Ini Diciduk Polisi

“Upacara atau acara formil ini diselenggarakan dengan prosedur yang ketat. Defenisi ini merupakan definisi yang lazim digunakan selama ini karena keindentikan wisuda melekat pada tingkat pendidikan di perguruan tinggi yaitu untuk mahasiswa,” kata Dr. Fitri.

Menurut pandangannya, sat ini fenomena wisuda dilakukan oleh siswa di tingkat pendidikan TK, SD, SMP hingga SMA dengan kemasan yang meriah dan terkesan berlebihan sehingga kata dia acara resmi yang seharusnya lebih makna berubah menjadi berlebihan.

“Namun saat ini, wisuda menjadi fenomena yang banyak dilakukan oleh siswa di tingkat pendidikan sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan atas. Bahkan upacara wisuda tersebut tidak sedikit yang diselenggarakan dengan meriah dan terkesan berlebihan, sehingga acara resmi yang seharusnya penuh makna menjadi terkesan berlebihan,” ujarnya.

Baca Juga  Peringati HUT ke-64, Pemuda Pancasila Gelar Donor Darah dan Gotong Royong di Hutan Kota Sungailiat