BANGKA, TIMELINES.ID – Program Koperasi Nelayan yang dicanangkan Menteri Sosial (Mensos) RI, Tri Rismaharini disambut antusias nelayan tradisional di Kelurahan Matras. Nelayan yang berlabuh di Matra, Teluk Pikat dan Turun Aban saat ini berjumlah 30 orang nelayan dengan armada perahu kecil sebanyak 28 perahu berkapasitas dibawah 5 GT.

Abdul Roni (33) Nelayan Matras kepada timelines.id, Selasa (4/7/2023) mengatakan sudah sejak lama berharap ada koperasi nelayan untuk menopang kebutuhan nelayan melaut dan di saat musim packelik berlangsung.

“Sudah turun temurun hingga hari ini, nelayan Turun Aban- Teluk Pikat menjual hasil tangkapnya kepada tengkulak (pengepul) yang datang setiap pagi ke darmaga tambat labuh dengan harga jual di bawah harga pasaran pada umumnya. Sehingga saat kami berdiskusi dengan rekan- rekan sesama nelayan koperasi menjadi solusi kami untuk keluar dari jeratan tengkulak. Tapi bagaimana mungkin kalau tidak ada bentuk support dari pemerintah,” ungkap Roni.

Baca Juga  Keren, Pelajar asal SMAN 1 Airgegas Dipanggil Seleksi Timnas Sepakbola Pelajar U 18

Kendati demikian, kondisi ini menurutnya harus diterima nelayan lantaran keterbatasan akses kepada supplier di tingkat produksi level perusahaan pengolahan ikan eksport dalam negeri. Selain itu, ada faktor keterbatasan keterampilan nelayan dalam mengelolah hasil tangkapan ikan.

“Diperparah lagi dengan beberapa nelayan saat ini yang mempunyai keterikatan utang kepada para pengepul. Kondisi ini tak dapat dihindari nelayan karena hasil melaut selalu habis unik kebutuhan keluarga sehari-hari. Sehingga nelayan berhutang kepada pengepul ketika membutuhkan dana segar untuk modal melaut seperti bahan bakar, ransum, membeli alat tangkap, memperbaiki perahu hingga biaya memperbaiki kerusakan mesin,”kisahnya.

Hampir seluruh perahu yang berlabuh di Pantai Turun Aban – Teluk Pikat merupakan nelayan cumi. Mayoritas perahu terbuat dari bahan dasar kayu dengan berbagai ukuran dan variasi dan alat tangkap. Mesin yang digunakan-pun berbagai ukuran. Yakni, jenis motor tempel ukuran 5 Hp hingga 15 Hp berbahan bakar utama Pertalite.

Baca Juga  Buka Musyawarah RKPD 2024, Mulkan: Mari Wujudkan Percepatan Pembangunan

Menurut Roni, beberapa perahu menggunakan mesin yang leboh kecil dibandingkan dengan bobot perahu hingga memperlambat laju perahu. Beberapa jenis perahu masih menggunakan mesin ketinting yang sudah tua dan rentan mengalami kerusakan dengan kekuatan mesin ketinting rata-rata 13 Hp.