Oleh: Agustian Deny Ardiansyah

OPINI, TIMELINES.ID — Keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak, pola interaksi, sikap dan perilaku ayah, ibu, kakak, kakek dan nenek turut memengaruhi perkembangan anak.

Dewasa ini perkembangan pola asuh anak dalam keluarga telah sampai pada titik nadir yang sangat memprihatinkan.

Tak jarang juga, anak yang memiliki prestasi mencolok di sekolah bisa melakukan hal-hal di luar nalar seperti sek bebas dan terjerat narkoba.

Ternyata, setelah ditelusuri penyebabnya adalah karena kurangnya perhatian keluarga terhadap anak.

Perhatian di sini bukan hanya perhatian dalam bentuk materi, namun bagaimana keluarga bisa melakukan pendekatan terhadap anak sehingga anak merasa nyaman dan hangat berada di dalam lingkungan keluarganya.

Jika hal tersebut bisa dilakukan maka pengertian berkeluarga menurut Ki Hajar Dewantara bisa wujud dalam setiap keluarga di Indonesia.

Baca Juga  Selamat! Tim SMAN 1 Namang Juara 1 Menghias Tumpeng Tingkat Provinsi Babel

Karena berkeluarga bukan hanya sekadar berhimpun namun juga bertujuan untuk memuliakan setiap anggota di dalamnya.

Kalimat memuliakan itulah yang seharusnya menjadi spirit keluarga Indonesia, sehingga dalam hal pendisiplinan, pembentukan mental, dan pendidikan dapat dilakukan dengan cara-cara yang “meninggikan derajat anak” bukan sebaliknya.

Jika hal tersebut dapat dilakukan oleh setiap keluarga di Indonesia juga akan membuktikan konsep pendidikan ala Ki Hajar Dewantara yang di dalamnya mengaitkan antara sekolah, anggota masyarakat, dan keluarga.

Renungan

Thomas Alfa Edison, seorang penemu bolam lampu yang sampai sekarang dan mungkin anak cucu kita kelak masih menikmati hasil karya agungnya.

Thomas Alfa Edison merupakan seorang anak yatim di mana dirinya pernah dikeluarkan dari sekolahnya karena suatu keterbatasan yang dialaminya.

Namun hal tersebut tidak membuat ibunya merasa kecewa, bahkan dengan penuh kesabaran dan kelembutan ibunya mendidiknya (Thomas Alfa Edison ) sendiri di rumah.

Baca Juga  Menangani Masalah Siswa dengan Segitiga Restitusi, Efektifkah?

Sering sekali ibunya membelikan Thomas Alfa Edison eksklopedia yang merangkum penemuan-penemuan besar dunia, dari situ Thomas Alfa Edison belajar tentang berbagai hal.

Peristiwa tersebut kemudian membuat Thomas Alfa Edison tumbuh menjadi seorang yang masih dikenal namanya hingga sekarang karena penemuan agungnya (bolam lampu) dan ribuan penemuan lainya yang telah memiliki paten atas namanya.

Sepenggal kisah tentang Thomas Alfa Edison di atas merupakan gambaran kecil bagaimana kuatnya lingkungan keluarga dapat menentukan arah kemajuan anak.

Begitu juga seharusnya keluarga Indonesia, tak lagi harus cepat-cepat melakukan judgment negatif terhadap anak jika anak tidak bisa melakukan suatu hal.

Tidak mendapat nilai baik di salah satu mata pelajaran, atau bahkan melakukan tindakan berlebihan jika anak tidak melakukan hal yang menjadi keinginan kita.

Baca Juga  Rakyat, Sebuah Kartu yang Menentukan Nasib

Meninggikan Derajat Anak

Oleh karena itu, harus ada perubahan pola asuh anak dalam keluarga, sehingga keluarga bisa menjadi mitra untuk mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan yang sesungguhnya.

Perubahan pola asuh anak dalam keluarga dapat dilakukan dengan:

pertama, memotivasi anak.

Motivasi merupakan bentuk lain dari dukungan yang memiliki tenaga ekstra luar biasa di dalamnya. Motivasi juga bisa membuat anak menjadi bergelora dalam meraih impiannya.

Anak seringkali tidak memilki motivasi dalam beberapa hal yang dilaluinya, sehingga perlu seseorang untuk memberikan motivasi.

Kesempatan memberi motivasi tersebut harus diambil penuh oleh keluarga.

Motivasi dapat dilakukan keluarga dengan memberikan masukan ketika anak menghadapi masalah baik dalam bidang akademik maupun non akademik, mendengarkan segala curhatan anak, atau memberikan ucapan selamat atas segala sesuatu yang dilakukannya.