Meninggikan Derajat Anak: Refleksi Hari Anak Nasional
Dengan seperti itu, maka dalam diri anak akan tertanam rasa percaya pada keluarga yang kemudian memunculkan sifat pantang menyerah dan semangat yang bergelora karena selalu ada keluarga yang menemaninya dalam keaadan paling sulit sekalipun.
Kedua, memberi inspirasi dan mengispirasi anak.
Memberi ispirasi dan mengispirasi dilakukan keluarga dengan membelikan buku tentang kisah orang-orang sukses atau keluarga langsung menjadi peneladan.
Bahkan kalau tidak bisa membelikan buku, keluarga bisa menceritakan sejarah kehidupan entah ayah, ibu, nenek maupun kakek sehingga anak bisa memahami bahwa segala sesuatu butuh proses untuk mendapatkan suatu hasil yang maksimal.
Dari kisah yang diceritakan anak juga dapat mengambil pelajaran akan hal-hal yang perlu dan tidak perlu dalam menjalani kehidupan sehingga bisa memilah mana yang baik dan yang buruk.
Sedangkan peneladan dapat dilakukan semua komponen keluarga dengan memberikan contoh terbaik pada anak, baik dalam hal berinteraksi, bersikap, maupun berprilaku harus benar-benar dilakukan yang terbaik dan diaplikasikan bersama anak.
Ketiga, melakukan komunikasi verbal (lisan) pada anak.
Komunikasi verbal (lisan) pada anak dapat dilakukan keluarga dengan memeberikan pujian atas prestasi yang didapat atau mengucapkan kata-kata penyemangat saat anak mengalami kegagalan.
Komunikasi verbal (lisan) juga dapat dilakukan dengan menanyakan kabar, menanyakan hal-hal yang dilakukan anak di sekolah, atau membiasakan menampung kritik, ide/gagasan, dan curhatan anak baik yang berkaitan dengan kondisi keluarga maupun seputar dunia permainnannya.
Hal tersebut menjadi penting karena dengan seringnya keluarga bercengkrama dengan anak dapat menumbuhkan lingkungan keluarga yang nyaman dan aman bagi anak.
Keempat, komunikasi non verbal (kontak fisik).
Komunikasi non verbal (kontak fisik) dapat dilakukan keluarga dengan bersalaman, memeluk, menepuk pundak, atau membelai kepala anak dengan lembut.
Misalnya, komunikasi non verbal (kontak fisik) dapat dilakukakan ketika anak akan berangkat sekolah dengan bersalaman dan mencium tangan ayah atau ibu.
Kemudian bisa juga dilakukan keluarga dengan memeluk anak ketika anak sedang menghadapi suatu masalah, bisa juga menepuk pudak untuk menyakinkan pada diri anak saat akan melakukan suatu perlombaan atau kegiatan yang menantang.
Komunikasi non verbal (kontak fisik) juga akan memberi dorongan pada anak untuk selalu mengejar target-target (impian/cita-citanya) karena anak akan merasa selalu ada yang peduli dengan dirinya.
Kelima, sentuhan qolbu (hati).
Allah SWT dalam menciptakan makhluknya tidaklah selalu memiliki perangai atau sikap yang sama pada setiap individu yang diciptakanya.
Oleh karena itu dalam keluarga sering kita menemui anak yang agresif, pasif, pemalu, pendiam, cerewet, banyak akal, pemarah, manja, dan jahil. Perangai tersebut merupakan bawaan anak dan sifat alami mereka (anak).
Maka setelah segala hal mulai dari memotivasi, memberi ispirasi dan menginspirasi, melakukan komunikasi verbal dan non verbal dilakukan, maka yang terakhir yang harus dilakukan adalah melakukan sentuhan qolbu (hati) dengan cara mendoakan anak kita.
Berdoa merupakan hal terakhir dan terbaik dalam pola asuh dengan cara “meninggikan derajat anak”, karena di dalam doa pasti terkandung kalimat-kalimat positif di dalamnya.
Kalimat-kalimat positif dalam doa tersebutlah yang kemudian akan membangun pikiran keluarga akan sisi-sisi baik pada anak.
Pola asuh anak dengan berdasarkan pada lima pondasi di atas memang tidak mudah untuk dilakukan.
Namun usaha dan komitmen positif keluarga dalam menggunakan pola asuh anak dengan cara “meninggikan derajat anak” merupakan proses yang sangat bernilai dan harus terus diapresiasi karena dapat mengelola emosi anak ke arah yang lebih baik.
Selamat Hari Anak Nasional 2023 “Anak Terlindungi Indonesia Maju”
Penulis adalah pengajar di SMPN 2 Lepar, Bangka Selatan


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.