Oleh: Tri Prasetyo

FEATURE, TIMELINES.ID — Pernahkah kalian membayangkan di Indonesia memiliki ruang membaca dan menulis (literasi) yang tersebar di seluruh sudut di wilayah-wilayah terpencil sekalipun? Misi ini nampaknya cukup mustahil.

Namun tunggu dulu, sampai kalian melihat ajaibnya salah satu komunitas yang mencoba mewujudkan mimpi itu. Komunitas itu adalah Book Not Bomb Indonesia.

Komunitas ini merupakan salah satu komunitas non profit oriented yang mendedikasikan ilmunya untuk khalayak ramai.

Berawal dari pemuda bernama Riskiyanto yang merupakan salah satu mahasiswa semester akhir di kampus biru Yogyakarta.

Ia merupakan aktivis yang sangat konsen terhadap isu-isu kemanusiaan dan sangat aktif berdiskusi dengan siapapun.

Suatu ketika saat ia sedang asyik scrolling media sosial Instagram, ia tak sengaja menemukan akun yang sangat menarik. Akun tersebut mengkampanyekan perpustakaan mini bebas akses.

Baca Juga  Membangun Agrowisata Berkelanjutan di Desa Tebing: Catatan dari Lapangan Program PMM

Akun yang saya maksud yakni Free Little Library yang bermarkas di USA.

Sederhananya, banyak masyarakat di USA menaruh bukunya di bilik-bilik yang sengaja dibuat di depan rumah supaya dapat diakses oleh siapapun.

Siapapun boleh meminjam, siapapun boleh membaca, dan siapapun boleh menyumbangkan bukunya.

Melalui postingan itu, seketika muncul dalam pikiran Riskiyanto untuk dapat mengkampanyekan hal yang sama namun di tempat yang berbeda.

Langkah pertama yang ia ambil adalah menghubungi teman-temannya dan mengajaknya bergabung dalam komunitas.

Setelah melalukan banyak diskusi dan rancangan yang panjang.

Akhirnya lahirlah komunitas Book Not Bomb Indonesia yang memiliki misi memberikan akses buku pada siapapun dengan gratis, tanpa syarat.

Baca Juga  Bagaimana Peran Pemerintah Daerah Menjaga Stabilitas Pelayanan Publik Akibat Korupsi

Dalam memilih tempat untuk menaruh buku-buku, Book Not Bomb memiliki kriteria sederhana yakni ramai dikunjungi masyarakat, dan dari kalangan menengah bawah.

Tempat tersebut mengerucut ke rumah makan, angkringan, warung kopi, dan rumah warga.