Oleh: Dwikki Ogi Dhaswara

Duaaarrrr… !!!

Serentak suara dentuman tiga meriam percobaan bagaikan genderang perang berbunyi lantang, aktif diantara hamparan meriam lainnya, nama ketiga meriam itu adalah  Si Kumbang, Si Perling dan Si Penyengat.

Hadirnya ketiga meriam itu bukanlah tentang luka, tetapi malapetaka untuk para perompak dan penjajah.

Meriam yang terbuat dari besi terkuat dari Desa Paku itu mampu menghancurleburkan kapal-kapal perompak hingga dinding-dinding batu dari pertahanan penjajah.

Dibuat oleh seorang pejuang di mana otak dan tangannya adalah senjata sakti yang ditakuti oleh semua musuh-musuhnya.

Ia dikenal dengan karakter yang cerdik dan gagah berani saat berperang, dikenal sebagai Sang Ahli Meriam yang bernama Raden Keling.

Raden Keling menetap di Pangkal Toboali bersama Puteranya sang ahli strategi perang yaitu Raden Ali.

Mereka diutus oleh Sultan Kesultanan Palembang Darussalam, Muhammad Bahaudin untuk mengamankan sumber kekayaan Timah di Tanah Bangka.

Raden Keling adalah Kepala Rakyat di Toboali sedangkan Raden Ali ditugaskan di Pulau Lepar.

Kabar kedatangan mereka ke tanah Bangka menciutkan nyali para Lanun (bajak laut), mendengar kabarnya saja sudah membuat para Lanun gemetar, kepala dipenuhi oleh ilusi tentang dua bayangan hitam, menyatu dalam pejam, merusak imajinasi hingga ke pembuluh nadi, menjadi berdebar bukan kepalang, khawatir karena perbedaan kasta yang tak sepadan.

Baca Juga  Potongan Terkecil

Lebih baik lari dari pada harus berhadapan dengan kedua pendekar itu.

Namun pemimpin Lanun juga tidak akan tinggal diam, mereka harus memburu ayah dan anak itu secara diam-diam, walaupun harus bekerja sama dan menjadi boneka Belanda demi kepentingan dan keuntungan niat jahat mereka.

“Wahai Anak ku, janganlah gentar melawan kemungkaran, sesungguhnya pedangmu lebih mematikan dari pada peluru meriam ku, sebagaimana kepercayaan sultan kepada kita adalah penghormatan yang harus kita jaga, sungguh aku meyakini bahwa engkaulah ujung tombak yang akan meneruskan perjuangan ku nantinya!” ucap Raden Keling.

“Baiklah Ayah, sungguh beruntung kita adalah bagian dari kesultanan yang berlembaga, beradat dari Bumi Sriwijaya. Akan aku tenggelamkan mereka ditengah lautan, dan akan aku remuk redamkan mereka di daratan!” jawab Raden Ali.

Baca Juga  Kumpulan Cerita Pengalaman Menarik Siswa SMAN 1 Lepar

Selama bertugas Raden Ali kerap pulang ke Pangkal Toboali untuk melaporkan situasi dan kondisi Pulau Lepar kepada ayahandanya Raden Keling.

Dalam perjalanan itulah, Raden Ali juga kerap bertemu dengan sekawanan bajak laut di Selat Lepar.

Hari buruk untuk para bajak laut yang bertemu dengannya, mau tidak mau mereka harus menyerah ditangan Raden Ali.

Seketika waktu Raden Ali bertemu dengan Gembong Rayad di Selat Lepar, mereka adalah perompak timah terbesar yang dikenal sebagai Lanun terganas yang sering beroperasi di perairan laut Lepar dan Belitong.

Naas mereka harus berhadapan dengan Raden Ali, tertangkaplah mereka dan dibawa ke Pulau Lepar.

Disaksikan oleh rakyat Lepar yang dikumpulkannya di suatu tempat dekat dengan Tanjung Gegading.

Peristiwa itu sebagai ajang pembalasan rakyat Lepar yang selama ini sudah mereka nanti-nantikan, kekejaman yang mereka lakukan membuat banyak Rakyat Lepar harus gugur dan tenggelam ditengah lautan, ulah dari keganasan para perompak tersebut.

“Wahai kalian para pengkhianat yang kejam, yang rela membunuh orang-orang sebangsa dan setanah air kalian sendiri, sedangkan orang-orang asing menjadi raja dan penguasa di negeri sendiri, sungguh tak beradab!” ucap Raden Ali.

Baca Juga  Senja Bercerita

“Kami butuh makan, kami butuh hidup, maka hukum rimbalah yang kami pedomankan, tak peduli siapa yang kami hadapi, semua kami lakukan untuk kelompok kami, hahahaha!”. Jawab Pemimpin Lanun sambil tertawa.

Mendengar tertawanya, membuat Raden Ali menjadi murka, teriakan Rakyat Lepar membuatnya berapi-api hingga menggenggam erat Pedang Kadga yang ia pegang.

Pada saat itu juga ia meilihat para Lanun bagaikan sekawanan domba yang siap diburu satu persatu.

Tak butuh waktu lama, seluruh Lanun yang tertangkap tumbang ditempat, seluruh tanah berwarna merah berlumuran darah, tidak ada kata ampun untuk para pengkhianat negeri.

Menyisakan peristiwa bersejarah, hingga tempat itu dinamakan oleh Rakyat Lepar sebagai Tanah Merah.

Peristiwa itu juga membuat banyak para Lanun semakin ketakutan, terutama yang berada di daerah-daerah seperti Kepo, Ulin, dan Nyireh, sampai-sampai upaya perampokan dan penjarahan yang ingin mereka lakukan sempat terhenti dikarenakan ketakutan akan keberadaan Raden Keling dan Raden Ali.