Oleh: Meilanto

Penulis, Pegiat Sejarah dan Budaya

BUDAYA, Lebak merupakan hutan rimba yang pada umumnya berlahan basah atau rawa-rawa atau payak atau bencah-bencah.

Sering kali hutan lebak mencari tempat warga mencari ikan dan udang dengan memancing, bebanjur (ngerawai), serumbong, injap (bubu), nyerampang dan lain sebagainya.

Hasil hutan berupa kayu dan rotan serta lebah madu menjadi pencarian warga. Ciri khas hutan lebak berupa pohon berukruan besar dengan tanah yang becek berlumpur.

Sering kali jalan setapak melewati anak sungai yang dihubungkan dengan titi. Lebak merupakan bagian dari daerah aliran sungai atau anak sungai (aik).

Apabila musim kemarau, sering kali hutan lebak terbakar. Punggur-punggur dari pohon yang sudah mati menjadi pemandangan yang menarik.

Baca Juga  Perjalanan Sebutir Beras

Sistem beume disamping pada lahan darat, juga bisa dilakukan di lahan lebak. Proses pembukaan lahan harus dilakukan secara ekstra dan bergotong royong.

Mengingat pohon-pohon yang pada umumnya berukuran besar dan tanah yang berawa-rawa.

Setelah selesai masa ngetam padi, lahan bekas ume akan meninggalkan batang-batang padi yang lama-kelamaan akan buruk karena proses alam.

Jika petani masih senang dengan lahan tersebut (padi darat/ tanah kering), maka lahan bisa ditanami dengan dengan palawija seperti singkong (mengalo), keladi, ubi jalar (bijur), kacang-kacangan, jagung, katis dan lain-lain maka lahan tersebut dikenal dengan Kubak.

Selain ditanami dengan palawija, juga bisa ditanami dengan sahang. Lahan tersebut tinggal diberi patok atau penanda untuk dibuat lubang yang akan digunakan untuk menanam sahang.

Baca Juga  Rimbak, Lebak, Rebak, Kubak, Bebak, Kelekak (Bagian 2)