Karya Sheila Fiorencia Caroline, Siswi SMKN 1 Sungailiat

Suasana malam yang penuh hiruk-pikuk kehidupan malam mewarnai perkotaan. Kendaraan lalu lalang dari satu tujuan ke tujuan lain. Lampu warna-warni menghiasi gedung-gedung pencakar langit.

Sebagian menikmati hidupnya dengan keindahan dan hiburan, sementara sebagian lainnya menggerutu dan mengeluhkan masalah-masalah yang terjadi di kota.

Suara bising kendaraan sebagian besar memenuhi jalan, sedangkan suara lain berasal dari suara anak-anak muda yang sedang nongkrong, sekadar mengobrol atau menyanyi bersama. Kehidupan itu adalah kehidupan normal di kota besar seperti Jakarta.

Sayangnya itu hanya kehidupan yang nampak dari luar. Jika menelusuri lebih dalam, masih banyak kehidupan miris tersimpan di dalamnya. Kehidupan yang kontras dengan sampul kehidupan Kota Jakarta.

Mereka ada di pinggiran kota atau di lingkungan kumuh yang tersebunyi. Contohnya saja ada sebuah jalur kereta api terbengkalai dekat pinggiran kota. Sebuah bekas kereta api yang amat besar berada di sana, tidak bergerak ataupun indah seperti dulu.

Namun, seorang anak laki-laki berusia 7 tahun dengan pakaian lusuh dan compang-camping sedang duduk di atas peron-nya. Dia duduk sambil memeluk lututnya dengan kepala menengadah ke atas, melihat indahnya langit malam sendirian.

Dia membayangkan kehidupan dirinya sendiri yang jauh lebih baik sambil bertanya-tanya apakah Tuhan benar-benar bisa mendengar doa-doanya setiap malam. Malam ini bulan bersinar lebih terang daripada biasanya.

Baca Juga  Begini Cara SMAN 1 Lepar Peringati Isra Miraj

“Aku Ikran, suatu hari nanti aku akan menjadi seorang pengusaha hebat!” serunya pada bintang-bintang.

“Hei, kau bicara dengan siapa?” Sebuah muncul dari belakang.

Suara itu membuat Ikran terperanjat kaget dan dia hampir melompat dari kereta api untuk melarikan diri. Itu sebelum sebuah tangan menahan satu kakinya, sehingga dia harus terbanting agak keras pada peron baja tersebut.

Ikran menoleh ke belakang dengan ekspresi ketakutan, namun setelah melihat siapa yang menahannya, ketakutannya seketika lenyap.

Seorang anak perempuan yang kemungkinan besar seumuran dengannya sedang memegangi kakinya. Dia anak yang cantik, memakai gaun merah muda yang indah, serta rambut panjangnya yang diikat dua. Untuk seorang anak perempuan, Ikran dibuat terpukau.

Anak perempuan itu tertawa dengan manis sebelum berkata, “Kau lucu.”

Mendengar itu, Ikran seketika dibuat salah tingkah. Pipinya memerah dan dia bingung harus bicara apa. Untungnya anak itu bisa mengembalikan situasi.

“Aku membuatmu takut, ya? Maaf, ya. Perkenalkan namaku Dinah, namamu siapa?”

Dengan terbata-bata Ikran menjawab, “Ak–aku Ikran.”

“Oh, Ikran, ya. Namamu bagus. Kenapa kau ada di sini?”

Ikran pun mulai lebih tenang setelah melihat betapa Dinah sangat ramah padanya, dia pun memperbaiki posisinya lalu berbicara, “Aku sedang melihat langit.”

Baca Juga  Bunga Perpisahan

“Melihat langit? Kau sama denganku!”

“Apa? Benarkah? Kukira hanya aku yang suka melihat langit di tempat seperti ini.”

“Sebenarnya aku melihat mereka di balkon rumahku, bukan di sini. Ayah bahkan membelikanku teleskop untuk melihat bintang-bintang.”

“Wah, sepertinya ayahmu sangat menyayangimu.”

“Tidak juga, ayah jarang pulang. Ibu juga sama. Tapi aku punya pengasuh yang terus menjaga dan menyayangiku.”

“Mereka mungkin bekerja untuk mendapat uang untukmu. Sepertinya kehidupanmu lebih baik dariku. Kau harusnya merasa beruntung.”

Dinah terlihat terganggu dengan itu, dia memutuskan mengganti topiknya, “Bagaimana dengan ayah dan ibumu?”

“Mereka… ayah sudah lama meninggal. Ibu sekarang sedang di rumah mengurus rumah dan adik-adikku. Aku ke sini karena aku sedang sedih.”

“Oh, kau… itu menyedihkan sekali. Maaf aku harus mengungkitnya,” kata Dinah wajah yang prihatin.

“Hei, jangan sedih. Aku baik-baik saja. Buktinya sekarang aku sedang bahagia sambil mengobrol dengan bintang-bintang kecil ini. Bahkan sekarang kamu juga bersamaku. Suatu saat nanti aku akan menjadi pengusaha hebat.”

“Oh, begitu ya. Aku doakan kau berhasil menggapai mimpimu. Kau harus janji padaku.”

“Terima kasih dan aku berjanji. Kau sendiri kenapa bisa ada di sini?”

Baca Juga  Hutan Angker (Tamat)

“Aku tersesat sebenarnya. Tadinya aku takut, sekarang ada kamu, aku tidak takut lagi. Lagi pula aku ingin melihat bintang juga.”

“Sungguh? Baiklah, kau boleh melihat mereka. Akan kutunjukkan apa yang kutahu.”

Mereka berdua duduk berdampingan sambil menatap bintang-bintang kecil yang bersinar di antara gelap malam. Satu hal yang paling mencolok, bulan bersinar lebih cerah daripada biasanya. Dinah nampak lebih kagum menatap bulan daripada bintang-bintang.

“Hari ini bulannya indah, ya. Akan lebih indah lagi jika bisa melihat gerhana.”

Ikran menatapnya dan dia sekali lagi dibuat terpukau melihat kecantikan Dinah. Wajah mungilnya diterangi sinar bulan membuat Ikran berimajinasi kalau Dinah mungkin anak yang dijatuhkan dari bulan.

Mata mereka berbinar menatap hal yang indah. Jika Dinah melihat keindahan dalam bulan, maka Ikran melihat keindahan itu dalam diri Dinah.

Mereka terus menatap langit sampai mereka berdua terlelap di atas peron kereta. Ikran tidak ingat apa yang terjadi setelah. Keesokan harinya, saat ia terbangun, dia menemukan dirinya sendiri di rumahnya dengan wajah sebal ibunya tepat di hadapannya.

Ikran tidak terlalu mempedulikan ibunya yang marah padanya karena tidak pulang semalaman. Dalam pikirannya hanya terbayang wajah Dinah dan penyesalannya karena pertemuan mereka begitu singkat.