Bulan Biru
*****
Sepuluh tahun berlalu, Ikran kini duduk di bangku SMA. Dia tidak bersekolah di sekolah yang elit, namun cukup untuk memberinya ilmu. Sayangnya, Ikran tidak terlalu menikmati hidupnya di masa SMA.
Kehidupannya lebih pahit karena dia belajar bahwa banyak orang yang tidak menerima status sosialnya. Mimpinya terasa lebih mustahil untuk didapat. Bahkan di usia remajanya, dia masih mampir ke peron kereta yang selalu menjadi tempat favoritnya sejak kecil hanya untuk sekadar memelihat pemandangan langit malam.
Hanya saja malam ini kembali berbeda. Saat sedang memandangi langit, Ikran kembali dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba menutup matanya. Merasakan hal ini, Ikran lagi-lagi kaget setengah mati sama halnya sepuluh tahun yang lalu.
Saat Ikran menoleh, dia melihat gadis yang familiar, namun sedikit berubah. Dia adalah gadis yang menjadi bahan pikirannya selama sepuluh tahun lamanya. Janjinya di malam itu selalu dijadikannya motivasi setiap kali dia merasa kalah.
“Mari kita lihat apa kau masih mengenalku.”
Ikran diam cukup sebelum tiba-tiba lampu menyala tepat di atas kepalanya, “Dinah? Iya, kan?”
“Benar! Ternyata Ikran sudah jauh lebih tampan,” puji Dinah yang seketika membuat wajah Ikran terbakar malu.
Dinah terlihat agak berbeda, namun dia masih anak perempuan sama yang tidak sengaja tersesat dan bertemu dengannya. Rambutnya sekarang pendek sebahu dan kini dia juga menggunakan seragam SMA yang pastinya jauh lebih bagus daripada milik Ikran.
“K-kau kembali? Sudah sepuluh tahun, tapi– tapi kau kembali?”
“Aku sudah berjanji, bukan?” Perkataan Dinah membuatnya kebingungan karena dia sama sekali tidak mengingatnya.
“Apa?”
“Dasar pelupa, aku berjanji sebelum tidur malam itu. Aku akan menemuimu lagi sepuluh tahun lagi. Aku beruntung karena kau tidak mengubah kebiasaanmu,”
Mendengar itu, hati Ikran merasa hangat. Belum pernah seseorang memperlakukannya seperti ini, kecuali ibu dan adik-adiknya. Mungkin benar Dinah memang dikirim Tuhan untuknya.
“Ngomong-ngomong, bagaimana perkembangan impianmu?”
Mendengar pertanyaan itu, hati Ikran yang sebelumnya membengkak karena banyak cinta, menjadi kempis dibuatnya. Dengan raut kecewa dan sedih, dia menceritakan perasaannya selama ini.
“Mimpi itu… lupakan saja. Aku bermimpi terlalu tinggi.”
“Hei, jangan bilang begitu. Semua orang boleh bermimpi. Bahkan jika itu terdengar sangat tidak masuk akal sekalipun. Kau tahu, aku punya mimpi untuk menjadi pilot suatu saat nanti. Kau tahu, kan? Pilot perempuan benar-benar diremehkan. Jika orang-orang menginjakmu ke tanah, maka kau harus mengangkat kaki mereka hingga tersungkur. Caranya dengan membuktikan bahwa kau bisa walaupun tidak berasal dari keluarga kaya raya ataupun berada. Bahkan jika kau berhasil, orang akan lebih mengapresiasimu daripada mereka yang sudah mulai dari cara yang enak.”
Jika Dinah punya kekuatan sihir, maka kekuatan itu adalah mencuci otak orang lain. Setiap kata-katanya selalu berhasil merasuki jiwa Ikran dan ia tahu akan terus melekat sampai kapanpun.
“Apa kita akan bertemu lagi?” tanya Ikran sambil merenung.
“Tentu saja, 10 tahun lagi di sini.”
“Kalau begitu aku akan menunggu.”
Entah kenapa setiap aku melihat langit bersama Dinah, bulan bersinar lebih terang.
*****
Sepuluh tahun lagi berlalu. Ikran yang sekarang berusia 27 tahun sudah bekerja untuk sebuah perusahaan sebagai karyawan tetap. Benar kata Dinah, apapun pasti ada jalannya. Ikran menunggu gadis pujaan hatinya selama 20 tahun.
Hanya bertemu dua kali dan gadis itu tidak pernah lepas dari pikirannya. Kata-katanya selalu bisa menyengatnya. Ikran ingin bertemu dengannya lagi sesuai janji mereka. Tempat itu sudah bukan jalur kereta terbengkalai lagi.
Pemerintah mengubahnya menjadi taman kota dan kini tempat itu sudah ramai dikunjungi. Sebenarnya itu adalah perubahan yang bagus untuk penataan kota, namun entah kenapa itu melukai Ikran. Dia merasa kenangan indahnya direnggut darinya.
Mungkin itu sebabnya Ikran duduk sendirian sekarang di kursi taman. Menatap anak-anak dan orang tua yang sedang menikmati taman dengan bermain atau sekadar bersenda gurau.
Dia sudah menunggu selama hampir dua jam, tidak ada tanda-tanda dari Dinnah sedikitpun. Biasanya dia akan mengejutkannya dengan berbagai cara. Mungkin Dinah kecewa dengan apa yang terjadi, atau mungkin Dinah kecewa padanya.
Pikiran-pikiran Ikran kacau tak karuan memikirkan segala pemikiran buruk tersebut. Tepat dua jam berlalu dan Ikran memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.
*****
Sepuluh tahun lain berlalu, Ikran kembali ke tempat yang sama. Dia berubah dari anak penuh mimpi menjadi orang yang telah menggapai mimpinya. Dia memiliki perusahaan atas namanya dan cabang di beberapa daerah di Indonesia.
Dia berhasil menggapai mimpinya. Taman itu kini sepi tak berpengunjung karena orang-orang kini memilih tempat-tempat lain untuk bersenang-senang. Namun bagi Ikran, tempat ini masih menjadi tempat sakral baginya. Saksi bisu dari perjalanan hidupnya.
Sudah sangat lama Ikran trauma akan tempat itu setelah kejadian sepuluh tahun lalu. Namun sekarang dia bisa tersenyum bahagia lagi berada di tempat itu. Dia duduk di sebuah bukit kecil dekat taman.
Seorang wanita muncul dari belakangannya sambil memegangi perut buncitnya. Wanita itu duduk di samping Ikran. Dia menggenggam tangan Ikran dengan penuh kasih sayang.
“Maaf, aku tidak menepati janjiku sepuluh tahun lalu.”
TAMAT
“Itu tidak penting lagi. Kau sekarang bersamaku.”

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.