Aku Mau Memaku Kupu-kupu
Karya: Dian Chandra
Dear Universe,
Kemalangan adalah teman karibku, sedang kesialan dan perundungan adalah teman tidurku. Aku hidup di antara nyala kemurkaan ibuku. Kadang-kadang aku berdiam dalam kebencian kekasihku.
Bertahun-tahun aku mengabdi pada takdir, pun membersamai nasib dengan tanpa keluhan. Dengan tetap setia mengangkut diri di punggung waktu. Serupa semut-semut di dinding-dinding kamarku.
Apaan, sih? Memangnya aku siapa yang bisa hidup selama itu. Uh, aku ini hanyalah seekor tikus yang doyan membawa pulang tulang-tulang ke lubang-lubang persembunyian.
Universe, sungguh aku bosan dengan cara-cara kaumku dalam mencari makan. Kuno! Uh, tak sadarkah mereka, bila kesialan bisa saja menimpa mereka bila masih saja menggunakan cara-cara tradisional. Dijadikan bahan eksperimen ilmuwan, misalnya.
jalan-jalan
di bawah naungan pohon
– pohon ketapang
bersenda gurau di bawah
terik matahari
yang selalu membilang ingatan
di bawahnya, di sebalik akar
-akar ketapang yang gigil
musim, tikus-tikus tinggal
memikul rahasia gelap tanah
yang gigil di tangan kuasa
: Dia!
Huh! Bukankah sudah kubilang, “Ayo pulang ke tempat yang rindang, tapi bukan akar-akar ketapang.” Namun, kalian selalu keras kepala. Huh! Rasakan, sebentar lagi tangan-tangan kuasa akan memasukkan kalian ke dalam bui eksperimen.
Duh, apaan, sih? Aku mulai meracau lagi, tapi yaa … mau bagaimana lagi. Tidak mudah menjadi seekor tikus yang hidupnya doyan bergerombol.
Uh, Universe, suatu ketika di antara angin yang sibuk bekerja, aku melihat penuh kedatangan kupu-kupu merah dengan kepakan sayapnya yang melenakan mata. Uh, inginku paku kupu-kupu itu, saat itu juga.
kupu-kupu, serupa gula-gula

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.