Aku Mau Memaku Kupu-kupu
yang sibuk ke sana ke mari
diangkut semut-semut pekerja
ditelan mentah-mentah oleh
anak-anak
dilarikan ibu menuju kopi ayah, menuju dompet yang kering
: kupu-kupu
Kala itu aku mencicit kegirangan. Seakan-akan telah menemukan sesuatu yang bisa melepaskan bebas di dada dan keramaian di kepalaku. Ya, mendadak jiwa psikopat bermukim di tubuhku, merasuk hingga ke jiwa dan ramai di kepalaku. Ahh, aku mau memaku kupu-kupu! Bukankah serangga terbang itu juga turut menyusahkan manusia, sama halnya dengan kaumku.
Oh, tapi, tidak! Tidak sebab demikian keinginan menyiksaku timbul. Keinginan itu terbit saat-saat aku melihat proses panjang jalan hidupnya, dari telur ke ulat, lalu kepompong dan kupu-kupu.
Ya, aku tak ingin ada sesehewan yang menikmati jerih payahnya. Tidak, tidak selama aku masih hidup.
Hei, Kau, kupu-kupu sialan! Dimana palu dan paku?
Hahahahahahahahahhahahahahahahahaha
Uhuk … uhuk … uhuk!
saat-saat
iblis berhenti merayu,
tikus kecil memulai per(adu)annya
memburu(h) – buru(h)
keberuntungan
Yups, pada akhirnya kupu-kupu telah mati lemas. Setelahnya, kugantung laba-laba hitam usai menikmati buruannya, jerih payahnya selama dua hari. Pun telah kubantai pula kawanan cecak yang sedang makan malam dua ratus kawanan nyamuk.
Tamat
Bionarasi
Dian Chandra adalah seorang arkeolog S2 UI, nganggur bernama lengkap Hardianti. Puisi-puisinya kerap memenangkan berbagai event menulis. Pada tahun 2022 buku puisinya yang berjudul Jalan-jalan di Bangka masuk nominasi Buku Sastra Utama, pun tak ketinggalan puisinya yang berjudul Kita Menari dan Menyanyi Panji masuk ke dalam puisi piliham dalam lomba Cipta Puisi Grup Facebook Hari Puisi Indonesia 2022. Ia telah menerbitkan 1 novel solo (2021) & 5 judul antologi puisi (2022).

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.