Karya: Navishabilillah, SMAN 3 Toboali, Bangka Selatan

 

Menjadi dewasa sangatlah tidak menyenangkan bagiku. Aku harus berjuang demi ekspektasi orang tuaku. Aku juga harus sukses demi orang tuaku. Dan aku harus membahagiakan orang yang aku cintai yaitu kedua orangtuaku.

Namanya Putri Ramadhani, sering dipanggil Putri. Putri anak bungsu dari empat bersaudara. Ia memiliki dua saudara tiri dan satu saudara kandung. Tapi putri menganggapnya sudah seperti saudara kandungnya sendiri. Di keluarganya hanya putri yang anak perempuan satu-satunya.

Putri pikir, putri adalah harapan terakhir keluarganya.  Karena, kakak-kakaknya sudah sukses semuanya. Hanya Putri yang baru duduk di Kelas 11 jurusan IPA.

Ini putri, yang memiliki banyak kekurangan, yang pastinya di dunia ini tidak ada yang sempurna. Dan putri bingung perjalanan dan tujuannya nantinya mau jadi apa. Putri setiap malam memikirkan masa depannya,

Baca Juga  Polsek Simpang Rimba Kenalkan Buku Karya Penulis Basel ke SDN 12 Desa Sebagin

“Apakah nantinya aku bisa sukses ya? Apa nanti aku bisa membahagiakan kedua orang tuaku? Apapun yang terjadi aku siap menerimanya. Yang penting aku harus yakin!” Putri bergumam dalam hati sambil merenung.

Hidup menjadi dewasa sangatlah tidak mudah. Putri waktu kecil ingin merasakan dewasa. Sekarang Putri sudah merasakannya, ternyata menjadi dewasa itu tidak segampang yang putri pikirkan. Dan Putri menjadi dewasa ingin mengulang kembali ke masa-masa kecilnya yang dulu.

Yang belum pernah mengetahui apa itu kerasnya hidup, apa itu bekerja, dan apa itu cinta. Waktu kecil hanya memikirkan main, main, dan hanya bermain.

Pada waktu siang hari, Putri pergi jalan-jalan bersama Raisa. Raisa adalah sahabat Putri waktu mereka di  sekolah dasar. Mereka pernah berbicara tentang menjadi dewasa.

Baca Juga  Seru dan Edukatif Outing Class SD Negeri 7 Toboali

“Sa, menurutmu menjadi dewasa itu capek gak?” kata putri dengan wajah tersenyum sambil memegang pundak Raisa.

“Hmm, menurut kucapek Put rasanya tidak sanggup menjadi dewasa, ” kata Raisa dengan tatapan kosong.

“Hmm, Put aku juga bingung memikirkan masa depanku nantinya seperti apa, apa kamu seperti itu juga Put?” kata Raisa dengan wajah yang tersenyum dan mengarahkan tangan telunjuk ke arah putri.

“Kalo boleh jujur, aku aslinya capek banget benar-benar capek dengan semuanya. Dan kenapa setiap yang aku inginkan dan aku harapkan tidak satupun yang berpihak kepadaku” ujar Putri dengan wajah yang hampir menangis.

“Iya Put, kita hidup ini harus selalu sabar, dan apapun terjadi dan selelah apapun kita, jangan pernah mengucapkan kata menyerah. Apalagi kita ini harapan keluarga. Semangat untuk kita berdua” kata Raisa menatap wajah putri dengan wajah yang tersenyum lebar, dan tanganya menggenggam lalu tangannya ke atas.

Baca Juga  Magnet Dapat Menghasilkan Arus Listrik Induksi

“Belajarlah dari sabar. Sabar memang gak bisa merubah keadaan, tapi dengan sabar hati kita belajar kuat menerima keadaan.”

“Dan pada akhirnya, yang kita pelajari dari hidup adalah bagaimana cara menerima suatu keadaan, tanpa menyalahkan keadaan.”

Putri, orang nya cepat menyerah, apapun yang membuatnya lelah Putri selalu berpikir ingin menyerah. Tetapi melihat teman-teman Putri yang selalu semangat menjalani hari-harinya, Ia berpikir kenapa ia tidak seperti teman-temannya.