Oleh: Heri Suheri

Beberapa kejadian tawuran pelajar di Kota Pangkalpinang menjadi suatu fenomena yang mengkhawatirkan dan memerlukan penanganan serius dari seluruh pihak terkait.

Tawuran pelajar di Kota Pangkalpinang tidak hanya merugikan bagi para siswa yang terlibat, tetapi merugikan juga bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

Menanggapi tentang masalah ini, kita semua tidak boleh abai, harus memiliki jalan keluar yang konstruktif dari masalah pribadi dan sosial mereka serta pemicu perilaku destruktif ini.

Menjaga masalah kamtibmas bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum, tetapi menjadi tanggung jawab kita semua, agar dapat memastikan situasi di Kota Pangkalpinang berjalan aman dan damai.

Semua pihak terkait perlu memahami akar permasalahan ini karena tawuran pelajar di Kota Pangkalpinang bukan masalah yang dapat diselesaikan dengan pendekatan sepihak, atau penyelesaian jangka pendek.

Kita semua harus memahami bahwa tawuran pelajar yang terjadi dapat mengarah ke anarkisme dan menimbulkan dampak mentalitas yang buruk ke depan bagi pelajar yang terlibat juga dampak sosial bagi lainnya.

Baca Juga  Penguatan Akuntansi sebagai Pilar Kemajuan Ekonomi Bangka Belitung

Penanganan masalah tawuran pelajar di Kota Pangkalpinang memerlukan kerja sama semua pihak, termasuk pemerintah daerah, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, keluarga, tokoh masyarakat, komunitas dan media.

Harus ada upaya kolektif yang kokoh dalam menciptakan lingkungan yang aman, stabil dan mendukung perkembangan positif bagi pelajar, anak muda di Kota Pangkalpinang dan di manapun.

Penyebab permasalahan ini, umumnya para pelajar yang terlibat perkelahian, atau tawuran, tidak hanya merupakan hasil dari konflik antar individu, tetapi juga dipengaruhi faktor-faktor lingkungan, sosial dan psikologis.

Setiap situasi tawuran dapat memiliki penyebab yang berbeda, dan penting untuk memahami bahwa setiap kasus tawuran dapat terjadi karena kombinasi dari beberapa faktor diatas.

Kemungkinan beberapa penyebab tawuran antar pelajar di antaranya:

Mentalitas Pelajar
Pada usia pelajar pada umumnya adalah adalah dimana rentan terhadap pengaruh lingkungan dan pengaruh negatif media sosial.

Baca Juga  Bundaran Pangkalpinang: Simpul Kota dan Simbol Kota

Terkadang perilaku agresif diantara para pelajar dapat dipengaruhi lingkungan disekitar mereka yaitu lingkungan yang tidak tertib, atau buruk, kurangnya pendidikan dan pemahaman spritual keagamaan yang mengajarkan akhlak, budi pekerti, etika bermasyarakat, toleransi dan lainnya serta kurangnya kontrol orang tua, masyarakat sekitar, termasuk pengaruh negatif dari media sosial .

Budaya tidak peduli dari lingkungan dan agresif mempengaruhi perilaku dan persepsi mereka terhadap masalah.

Perasaan Frustasi dan Tekanan
Tekanan baik dalam hal akademis maupun hubungan sosial, dapat menyebabkan frustasi yang berkembang menjadi konflik antar pelajar.

Selain itu, masalah kemiskinan, ketimpangan sosial, masalah pribadi seperti masalah keluarga atau masalah emosional juga menyebabkan tingkat frustasi yang lebih tinggi diantara para pelajar.

Perasaan Tidak Puas atau Tidak Adil
Pelajar mungkin merasa tidak puas dengan perlakuan atau keputusan yang diambil pihak sekolah atau rekan rekannya. Ini bisa mencakup tidak puas terhadap perlakuan atau Keputusan yang dianggap tidak adil.

Baca Juga  Kukang Bangka: Permata Tersembunyi yang Terancam Punah

Kelompok atau Geng
Terkadang tawuran dapat terjadi karena adanya konflik antara kelompok-kelompok pelajar yang berbeda. Ini bisa terjadi akibat dari ego kelompok, perasaan superioritas, atau konfliknya antar kelompok sosial.

Penggunaan obat obatan terlarang, seperti narkoba dan zat adiktif lainnya, dapat meningkatkan perubahan mental dan meningkatkan resiko terlibat dalam kekerasan bahkan perbuatan buruk lainnya seperti pelanggaran kejahatan pidana.

Banyaknya kasus tawuran bisa juga diakibatkan minimnya sarana rekreasi, tempat bermain dan berekspresi yang layak untuk pelajar,kaum muda. Pembangunan fasilitas publik harus dapat mendukung untuk kegiatan positif pelajar, atau anak- anak muda sehingga tersalurkan kreatifitas dan komunitas positif mereka.

Kurangnya Pengawasan dan Pendampingan
Kurangnya pengawasan dari otoritas sekolah dan dari orang tuanya dapat memungkinkan pelajar merasa dapat bertindak tanpa konsekuensi, mereka lebih cenderung mencoba berbuat arogansi yang memicu pertengkaran dan tawuran.