Menjaga Lisan
Oleh: Wulan, S.Pd
Menjaga lisan. Sebuah amalan yang kelihatannya ringan tapi ternyata berat dan sulit. Kita akan melihat bagaimana para Salaf (orang-orang saleh terdahulu) dalam masalah menjaga lisan.
Lisan ini barangnya kecil tetapi hasilnya bisa sangat luar biasa. Dan sesungguhnya lisan ini asalnya merupakan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang Allah katakan:
وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ ﴿٩﴾
“lidah dan dua buah bibir.” (QS. Al-Balad[90]: 9)
Allah memberikan kita lisan dan dua bibir yang dengan lisan ini masyaallah, kebaikan besar akan terwujud. Bukankah manusia dia mengenal tauhid, dia mengenal sunnah, dia mengenal jalan Islam, dia bisa menjauhi syirik, mengenal bahayanya syirik, bahayanya bid’ah, bahayanya maksiat, membedakan jalan yang haq dengan yang batil, itu semuanya adalah karena lisan? Yaitu adanya para pendakwah, adanya para guru, adanya para ulama, yang dengan lisannya menyampaikan al-haq, sehingga kita mengenal kebenaran melalui mereka. Sehingga lisan memiliki manfaat yang sangat besar.
Akan tetapi jika lisan tidak terkendali, maka justru lisan ini akan menjadi malapetaka besar. Sehingga orang terjerumus dalam perbuatan syirik, terjerumus dalam perbuatan kekafiran, kemunafikan, bid’ah dan maksiat.
Itu semuanya adalah gara-gara lisan. Yaitu di mana lisan menjelaskan dan menyihir manusia sampai orang tertipu hingga mereka mulai tenggelam dalam berbagai macam perbuatan penyimpangan-penyimpangan agama.
Agama kita Islam, ajaran Al-Quran dan Sunah sangat perhatian besar berkaitan dengan masalah menjaga lisan. Dan di antara rusaknya puasa kita ini adalah juga gara-gara lisan.
Di mana orang tidak mampu menjaga lisan yang buruk, tidak mampu menjaga omongan yang buruk, sehingga puasanya tidak bermakna dan tidak mendapatkan pahala sama sekali. Bukankah kita telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mengatakan:
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
“Berapa banyak orang mereka berpuasa dan dia tidak mendapatkan bagian puasanya kecuali hanya lapar dan haus.” (HR. Thabrani)
Padahal puasa ini memiliki keutamaan yang sangat besar. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam katakan:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ
“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan menjadi 10 sampai 700 kali lipat.”
Lalu tentang puasa apa kata Allah Subhanahu wa Ta’ala?
إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Kecuali puasa, puasa itu untukKu dan Aku sendiri yang akan mengganjar puasa itu.”
Sehingga puasa ini adalah amalan yang istimewa. Pahalanya sangat luar biasa. Tapi kok sampai ada orang yang berpuasa ternyata tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan haus. Apa sebabnya? Sebabnya adalah kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْل فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang dia dengan puasanya, dia tidak meninggalkan perkataan dusta, perkataan buruk, perkataan jelek dan perbuatan-perbuatan kejelekan, Allah tidak membutuhkan dalam hal dia meninggalkan makan dan minum.”
Dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar dan haus karena dia tinggalkan makan minum. Sehingga Nabi pun katakan:
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ
“Puasa bukan sekedar dengan meninggalkan makan dan minum. Akan tetapi puasa itu adalah dengan cara meninggalkan lagwu (segala hal yang sia-sia, segala hal yang tidak ada gunanya, apalagi yang haram), demikian pula meninggalkan rofats (omongan pornografi yang bisa membangkitkan syahwat)” (HR. Ibnu Majah)
Ini adalah hakikat puasa yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Oleh karena itulah kita akan lihat bagaimana wasiat para Salaf kita dalam hal menjaga lisan ini.
Wasiat Para Salaf dalam Hal Menjaga Lisan
