Oleh: Rusmin Sopian

“Pakbos. Bukan bidang ku menjadi juri sayembara penulisan sejarah.”

Demikian bunyi WhatsApp yang dikirimkan seorang jurnalis senior Toboali Bangka Selatan kepada penulis.

Di kesempatan berikutnya bunyi WhatsApp senada dikirimkan jurnalis senior itu yang merupakan ketua salah satu organisasi wartawan saat sebuah grup WhatsApp memintanya untuk menjadi juri lomba bertutur.
” Maaf Pak. Bukan bidang ku. Ku dak kompeten.”

Bacaan WhatsApp itu koheren dengan hadist Nabi yang menyatakan serahkan kepada ahlinya.

Jurnalis senior itu tahu diri. Nabat istilah orang Habang.

Menilik pembicaraan WhatsApp di atas tadi, mengemban amanah sebagai juri saja, perlu penguasaan atas bidang tugas yang diembannya.

Baca Juga  Tampil Gemilang, 2 Pesilat Bangka Selatan Lolos PON 2024

Apa jadinya sebuah produk penjurian sayembara, kegiatan ataupun perlombaan bila diamanahkan kepada mereka yang bukan ahlinya. Ancok lilot mengutip bahasa gaul orang Habang Bangka Selatan.

Dan entah apa jadinya perlombaan burung bila diserahkan kepada penulis yang notabene tidak memahami dunia perburungan.

Sementara di rumah tidak seekor burung yang dimiliki penulis dan terpelihara. Bahkan burung yang dikandang pun kadang jarang terurus.

Di tengah hiruk pikuk kontestasi demokrasi Pilkada serentak tahun 2024 ini, kita sebagai rakyat mulai melihat ada yang merasa dirinya mampu menjadi kepala daerah.

Sementara pengetahuannya tentang birokrasi dan tata pemerintah masih jauh panggang dari api. Bahkan ada yang tidak pernah sama sekali berkiprah dalam bidang itu.

Baca Juga  Pembelajaran IPS Melalui Metode Experiential Learning di SMPN 1 Batujaya Karawang

Entah apa jadinya, bila mereka yang diamanahkan rakyat sebagai pemimpin daerah tidak memahami tata kelola pemerintahan yang baik.

Entah apa jadinya, ketika warga sebuah daerah bila mengamanahkan jabatan kepala daerah kepada mereka yang belum mampu.

Banyak cerita yang dapat kita lihat dan bahkan rasakan ketika pemimpin daerah yang kita pilih di tempat pemungutan suara (TPS) gagal membawa kemanfaatan bagi rakyat daerah yang dipimpinnya. Gagal membawa kesejahteraan bagi rakyat yang dipimpinnya.