JOGJAKARTA, TIMELINES.ID – Kemampuan membaca merupakan keterampilan dasar yang menjadi fondasi pengembangan pengetahuan dan keterampilan individu. Kekurangan dalam kemampuan membaca merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi siswa di berbagai jenjang pendidikan di Indonesia.

Di Indonesia, tingkat literasi masih sangat rendah, faktor-faktor yang berkontribusi terhadap rendahnya kemampuan membaca di Indonesia termasuk paradigma pengajaran yang tidak efektif di jenjang pendidikan dasar. Kemampuan membaca adalah keterampilan dasar yang menjadi fondasi bagi pengembangan pengetahuan dan keterampilan individu, namun di Indonesia, keterampilan ini masih menjadi tantangan besar.

Skor kemampuan membaca siswa Indonesia dalam PISA 2022 menunjukkan angka 359 poin, jauh di bawah rata-rata negara-negara anggota OECD yang berkisar antara 472-480 poin.

Baca Juga  Yang Se Jong Meluncurkan Akun Instagram Pribadi

Melihat tantangan literasi yang signifikan di Indonesia, khususnya dalam hal membaca, ada kebutuhan mendesak untuk merancang pendekatan pembelajaran literasi yang lebih holistik dan efektif. Tantangan literasi tidak hanya mempengaruhi anak-anak secara umum, tetapi juga memiliki dampak yang lebih signifikan pada anak-anak berkebutuhan khusus, seperti anak tunarungu.

Anak anak ini menghadapi hambatan besar dalam memperoleh kemampuan membaca karena gangguan pendengaran mereka, yang menghalangi mereka dalam mengakses informasi auditori yang penting untuk pengembangan bahasa dan keterampilan membaca. Media pembelajaran yang tepat menjadi kunci dalam upaya meningkatkan literasi membaca anak tunarungu.

Media ini harus mampu mengintegrasikan elemen visual yang kuat, interaksi yang menarik, serta memfasilitasi pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Teknologi augmented reality (AR) menawarkan solusi potensial dalam pengembangan media pembelajaran yang inovatif dan efektif.

Baca Juga  Hadapi Lebaran Idul Fitri 2023, Mendag Minta Pedagang Tidak Timbun Sembako, Zulkifli: Kita Tindak Tegas!

Augmented reality memungkinkan pengguna untuk melihat dan berinteraksi dengan konten digital yang disisipkan dalam dunia nyata mereka, menciptakan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan imersif.

Menanggapi hal ini, Tim Read Ranggers mengembangkan aplikasi Read Rangers sebagai media pembelajaran membaca berbasis AR untuk anak tunarungu dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang penelitian riset dan humaniora, yang menjadikan PKM-RSH UAD Tim Read Rangers berhasil didanai Belmawa Djiten Diktiristek tahun 2024.

Aplikasi ini dirancang dengan memanfaatkan permainan tradisional Jawa Gulaganthi dari Serat Javaansche Kinderspelen, yang diadaptasi ke dalam pengalaman visual digital yang menarik dan didukung dengan interpretasi bahasa isyarat.

Tim PKM-RSH Read Rangers terdiri dari satu dosen pembimbing yaitu Dr. Yosi Wulandari, M.Pd. dan tiga orang mahasiswa yaitu, Iftitah Ulfiana Maghribi (ketua), Anindi Nur Rohmah (anggota) dan Yudha Wahyu Saputra ( anggota). Judul riset ini yaitu Read Rangers: Aplikasi Membaca Bagi Anak Tuna Rungu Melalui Permainan Tradisional Gulaganthi dalam Serat Javaansche Kinderspelen Berbasis Augmented Reality.

Baca Juga  KPK Minta Klarifikasi Mantan Pejabat Ditjen Pajak terkait LHKPN 56 Miliar Rupiah