Rakasha
Karya: Nurul Janah Gustina, siswi Kelas XI Mipa SMAN 1 Pemali
Titik titik embun terlihat di jendela Rakasha, tanda hujan semalam yang sukses membuatnya tidur walaupun masih dihantui sekelebat peristiwa malang yang selalu dia hadapi di sekolah ataupun di rumah.
Rakasha membuka tirai abu-abu miliknya, mengungkapkan langit suram penuh awan hitam. Sehitam hidup Rakasha. Rakasha menghembuskan nafasnya di dekat jendela, lantas membentuk logo smile dengan jarinya. Menyemangati diri sendiri untuk terus hidup dan hidup.
Rakasha turun dari tempat tidur empuknya. Bersiap untuk memulai hari, walau ia tahu apa yang akan terjadi nantinya. Ia tak putus harapan, ia tahu pasti ada setidaknya satu orang di dunia suramnya ini yang bisa membuat Rakasha merasakan hidup penuh warna seperti orang lain.
Rakasha berfikir, jikapun tak ada, maka dia sendiri yang akan mengubah hidupnya. Ia hanya butuh waktu dan energi, yang sangat sulit di dapatkannya akhir-akhir ini. Ditambah lagi suasana rumah yang kian mendingin sejak ia lulus SMP, membuat Rakasha semakin terkungkung penderitaan.
“Semoga mama tidak lupa untuk menyisakan bahan makanan,” Gumam Rakasha sambil menuruni tangga menuju dapurnya. Namun sepertinya Rakasha harus kecewa. Meja makan sama sekali tak mempunyai kehangatan tersisa, kulkas semakin dingin ketika Rakasha buka, tak ada bahan makanan apapun kecuali air dingin dan teh semalam yang ia buat. Mau tak mau, pagi ini Rakasha hanya mengisi perutnya dengan es teh.
Rakasha pergi dengan perut lapar, berdoa semoga ia dikuatkan untuk menjalani hari, dan lagi-lagi, ia berharap agar hari-harinya akan berjalan lebih baik. Bahkan untuk sekadar mengikuti pelajaran dengan baik dan aman pun Rakasha bersyukur. Harapan lah yang membuat Rakasha bertahan, harapan juga yang membuat Rakasha berkali kali tersakiti.
“Ra..ka..sha,”
Rakasha membeku, mukanya yang pucat semakin memucat mendengar suara terkutuk yang menghantui hidupnya. Rakasha menguatkan diri, ia harus tegar.
“I-iya, Kira,” Rakasha menunduk, bersiap akan perlakuan terburuk yang akan diterima. Jam masuk kelas sebentar lagi, jadi sebaiknya ia menyelesaikan semua ini dengan cepat.
“Mana sarapanku? Kamu tidak lupa, kan?!” ujar Kira sambil mencengkram dagu Rakasha dengan kuat, kuku panjangnya hampir masuk ke dalam pipi Rakasha. Rakasha meringis, bagaimana ia bisa menyiapkan sarapan untuk Kira, dia pun tidak sarapan. Uang? Mimpi saja, sudah syukur ia masih bisa tinggal di rumah es itu.
“Maaf Kira, hari ini sama sekali tidak ada yang bisa kubawa. Tolong lah Kira, untuk hari ini maafkan aku. Sebentar lagi masuk kelas,” jawabnya seraya meneteskan air mata, sungguh berharap kali ini Kira tidak sekejam biasanya.
“Oh. Rakasha kita sudah berani ya menitahkan Kira? Kamu dapat keberanian dari mana? Heh! Asal kamu tahu ya, sebentar lagi beasiswa kamu akan dicabut! Ayahku itu pemilik saham terbesar di sini. Jadi jangan macam-macam!” Kira mendorong Rakasha ke tembok, membuat tulang belikat Rakasha nyeri. Tubuhnya nyaris tanpa daging.
Kira mengatakan itu sambil menampar, memukul, menjambak, apapun yang bisa mereka lakukan untuk menyakiti Rakasha. Bahkan mereka telah menggiring Rakasha ke toilet. Raksha ingin melawan, tapi mana sanggup dia melawan cekalan antek-antek Kira yang tubuhnya ternutrisi dengan baik? Jelas sudah kalah jumlah dan kalah tenaga.
Dan lagi-lagi, Rakasha dibubuhi banyak lebam di tubuhnya. Ia hanya bisa diam atau menangis, ia tak mampu melawan. Rakasha masih bersyukur bisa mengikuti kelas tanpa telat, walaupun wajahnya membiru lebam. Terpaksa Rakasha menutupinya dengan masker.
Kalian pasti berfikir apakah guru-guru di sana tidak ada yang simpatik? Kalian tak sepenuhnya benar. Beberapa guru mengetahui hal-hal yang dilakukan Kira, namun mereka terhalang oleh latar belakangnya. Salah Rakasha tidak melapor? Bahkan Rakasha sudah melapor, bahkan laporan Rakasha membuat Rakasha sendiri yang skors 2 hari.
Alasannya karena Rakasha menyinggung dan memfitnah Kira. Tanpa bukti, Rakasha hanya menunjukkan luka-lukanya. Yang sama sekali tidak bisa membuat guru BK percaya. Setelah itu, Rakasha tidak lagi berharap guru-guru akan menolongnya.
Pernah beberapa guru ingin melaporkan Kira kepada pihak yang berwenang, namun mereka semua terpaksa berhenti di tengah usaha mereka menaruh kamera pengintai. Padahal itu hampir tersampaikan, hanya saja Kira, dibantu ayahnya menghapus semua rekaman itu.
Berbagai cara dilakukan ayah Kira untuk melindungi anaknya. Bahkan ketika ada video yang lolos kek sosmed atau kantor polisi, ayah Kira rela menyuap orang untuk menghentikan penyebarannya. Demi nama baik anaknya, ayah Kira mengorbankan kehidupan anak lain.
***
Di kelas, Rakasha berusaha fokus mengikuti pelajaran. Tubuhnya berdenyut di berbagai tempat, seakan dipukuli saat itu juga. Mungkin, mereka menyebutnya trauma. Untungnya, Rakasha mengerti semua yang diajarkan guru-gurunya. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah belajar dan belajar. Belajar membuatnya sibuk dan menjadi pengalih perhatian dari rasa sakit yang di deritanya.
Bruk
“Rakasha!”
“Eh dia kenapa, bantuin bantuin !”
“Angkat ke UKS cepat anak-anak”
Rakasha ambruk di mejanya, dengan masker dipenuhi darah. Dia mimisan. Tubuhnya sudah di ambang batas menahan rasa sakit dari luka yang bertumpuk. Tak ada yang peduli, lebih tepatnya tak ada yang berani untuk perduli. Mereka masih punya keluarga untuk dilindungi dari Kira. Entah kapan Rakasha akan mendapatkan keadilan.
Plafon putih dan dinding putih menyambut mata Rakasha ketika ia membukanya. Rakasha bingung, UKS sekolah berdinding krem, bukan putih. Ia tak mungkin di UKS.
“Syukurlah adik sudah bangun. Bagaimana dik, sudah mendingan? Apa yang kamu rasakan sekarang?” Wajah tampan dokter muda membesar di depan Rakasha, membuat pupil mata nya membesar, terkejut. Melihat dari jas putih bersihnya, Rakasha tahu pria itu dokter.
“Siapa yang bawa saya dok?” Rakasha tak menghiraukan pertanyaan dokter yang menurutnya agak sulit dijelaskan sekarang. Ia hanya penasaran, siapa yang masih punya hati untuk membantu nya ke rumah sakit. Ia yakin sekali ia mendengar gurunya menyuruh teman kelasnya untuk dibawa ke UKS, bukan Rumah Sakit. Apalagi hanya satu ranjang di sini.
Dokter hanya tersenyum, “Sebentar lagi dermawanmu akan datang. Dan akan kukatakan padamu Nak, dunia tak sekejam yang kamu pikirkan,”
Rakasha termenung, apakah dia adalah seseorang yang Rakasha tunggu selama ini? Orang utusan Tuhan untuk membantunya keluar dari jurang kepedihan ujian ini? Rakasha bersyukur sekali kali ini. Dia masih diperlakukan, setidaknya dia tidak dibiarkan di lantai kelas yang dingin.
Pintu dibuka.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.