BANGKA, TIMELINES.ID — Kepedulian terhadap lingkungan menjadi isu yang semakin mendesak di tengah berbagai ancaman terhadap keanekaragaman hayati. Pulau Bangka, yang terkenal dengan kekayaan alamnya, juga menghadapi tantangan besar dalam upaya melestarikan flora dan fauna lokal, terutama satwa flagship dan endemik yang hanya terdapat di wilayah tersebut.

Menyadari urgensi tersebut, Tim pengabdian Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung (Unmuh Babel) meluncurkan program edukasi pelestarian satwa kepada generasi muda Dusun Kelapo, Desa Riding Panjang, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka.

Dosen inisiator program, Randi Syafutra dan Hendi Hendra Bayu dari Program Studi Konservasi Sumber Daya Alam (Prodi KSDA) mengatakan program pengabdian ini terintegasi dengan Kuliah Kerja Nyata Kedisinian (KKN Kedisinian) Unmuh Babel 2024.

Baca Juga  Antisipasi Bencana di Bangka, Firmansyah Levi sosialisasikan Perda pada Warga Kampung Pasir Sungailiat

“Kami menyadari bahwa edukasi adalah kunci utama dalam meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, akan pentingnya menjaga keberadaan satwa flagship dan endemik Pulau Bangka,” ujar Randi pada Minggu, (8/9/2024).

Dikatakan Randi, fokus utama edukasi kali ini, yakni Satwa Flagship dan Endemik Pulau Bangka.

“Satwa flagship merujuk pada spesies yang dijadikan simbol dalam kampanye konservasi, karena keunikan dan daya tariknya, baik dari segi ukuran, bentuk, maupun nilai ekologisnya. Spesies ini berperan besar dalam meningkatkan kesadaran publik terhadap isu konservasi,” terangnya.

Kata Dia, di Pulau Bangka, beberapa satwa flagship yang menjadi fokus edukasi di antaranya adalah Mentilin (Cephalopachus bancanus bancanus), primata kecil yang terancam oleh hilangnya habitat akibat deforestasi dan aktivitas tambang timah.

Baca Juga  Tim Gabungan Polsek Belinyu dan Ditreskrimum Polda Babel Ringkus 2 Pelaku Curat

Ia juga menjelaskan tentang satwa endemik, yakni spesies yang hanya ditemukan di wilayah tertentu (dalam hal ini di Pulau Bangka), yang menjadi perhatian khusus dalam program pengabdian ini.

“Kerusakan lingkungan dan perubahan penggunaan lahan yang masif telah mempersempit habitat satwa-satwa ini, sehingga mereka menghadapi risiko kepunahan yang tinggi jika tidak ada upaya konservasi yang serius,” ungkapnya.