Karya: Sutiono, S.Pd. Kim, M.M

Pagi hari yang cerah, embun pagi mulai meluncur jatuh membasahi tanah dari dedaunan pohon yang rimbun dan disambut dengan riuh irama burung bernyanyi. Suasana pagi itu membuat Erikson dan rombongan pendaki kembali mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendakian ke Puncak Dempo dengan suasana hati yang ceria dan optimis mencapai puncak.

Setelah semalaman beristirahat di basecamp dan mendapat nasihat yang penting dari Raden Sahid tentang pendakian di gunung Dempo, mereka berkumpul dengan semangat baru, meskipun kelelahan masih terasa di wajah mereka.

Sebelum berangkat, Erikson mengingatkan rombongan tentang pentingnya arti kebersamaan, saling mendukung dan menguatkan satu sama lain serta saling berkomunikasi selama pendakian.

“Halo kawan-kawan, bagaimana kondisi sekarang dan apakah semua siap?” tanya Erikson dengan penuh semangat. Rombongan mengangguk, dan mereka pun melanjutkan langkah menuju jalur yang telah mereka pilih. Namun, suasana semakin mendebarkan ketika mereka kembali sampai di persimpangan yang sama, di mana perdebatan kemarin dimulai.

Baca Juga  Mentari

“Jadi, kita ambil jalan kanan seperti yang aku sarankan?” ujar Tunku Singalangit, menatap Erikson dengan serius. “Kita sudah belajar dari kesalahan kemarin dan harus bisa mengambil hikmah di balik itu semua.” Erikson menatap jalan kiri dengan keraguan.

“Tapi kita sudah berkomitmen pada jalur ini. Aku yakin kita bisa melewatinya kali ini, mudah-mudahan cuaca bersahabat.” Diah Pitaloka, yang tampak sedikit gelisah dan trauma dengan kejadian kemaren, berkata, “Kita harus mengikuti apa yang dianggap terbaik. Jika ada keraguan, mungkin kita perlu mempertimbangkan kembali.”

Tunku Singalangit hanya bergumam mendengar perkataan dari Diah dan Erik, dan berkata dengan nada berat dan pelan, “semoga perjalanan kita mulus dan selamat menuju puncak.”

Baca Juga  Rekah Sebuah Kota: Purwokerto

Perjalanan dilanjutkan, Mentari mulai malu-malu mengintip di balik awan sambil mentertawakan para pendaki yang sudah mulai cemas dan tegang, karena trauma kejadian kemaren sore. Di tengah perjalanan, beberapa pendaki saling bertukar pandang, tidak tahu harus mengikuti siapa.

Namun, semangat yang membara untuk mencapai puncak membuat mereka lebih berani. Dengan suara bulat, rombongan akhirnya memilih untuk melanjutkan ke arah kiri, meski Tunku Singalangit tampak ragu.

Jalur yang dipilih terasa lebih berat dari yang diperkirakan. Setiap langkah terasa menantang, terutama ketika kabut mulai menutupi jalan yang sedikit agak licin. Dengan kondisi medan yang berat, beberapa dari mereka terpaksa berhenti sejenak, mengambil napas dalam-dalam, dan mengatur langkah.

Baca Juga  Mengajarkan Cinta

Suara alam yang sunyi dan menenangkan berganti dengan suara langkah kaki yang berdecit di atas tanah basah. “Erik, aku tidak yakin dengan jalur ini dan kita tidak seharusnya berada di sini,” kata Agus dengan suara bergetar. “Kita harus memikirkan untuk kembali.”

Dan tiba-tiba “Tunggu sebentar! Kita sudah terlalu jauh. Kita bisa mencapai puncak, kita harus percaya!” Erikson menjawab, berusaha menenangkan dan menyakinkan semua orang, padahal dalam hatinya terdapat keraguan.