Karya: Navisha Bilillah

CERPEN PEKAN SASTRA, Pacaran beda agama itu berat, karena ujungnya kamu harus memilih antara menghianati kekasihmu, menghianati Tuhanmu atau lebih parahnya lagi, meminta kekasihmu untuk menghianati Tuhannya.

Antara syahadat dan babtis, antara gereja dan masjid, antara adzan dan lonceng, antara tasbih dan salib.

Aku menemukan sebuah cinta yang tidak bisa aku jelaskan.

Tidak ada yang salah dari cinta beda agama, karena kita gak bisa milih dengan siapa kita akan jatuh cinta, tapi satu- satunya kemungkinan paling besar dari pacaran beda agama yaitu perpisahan.

Menjalin  hubungan beda agama adalah langkah awal menuju patah hati, dan ada tembok yang terlalu tinggi penghalang dari sebuah hubungan.

Baca Juga  Pantun: Menyambut Maulid Nabi

Cinta itu tidak harus saling memiliki, tapi cintalah yang membuat kita ingin saling memiliki.

Nadia salsabila, ya itu namaku. Biasa dipanggil Nadia.

Aku memiliki seorang pacar, cinta keduaku. Karena cinta pertamaku yaitu ayahku.

Verrel brams, itu nama pacarku. Tapi, sayangnya kami berdua beda agama. Aku Islam sedangkan ia Tionghoa. Aku tau pacaran beda agama takkan pernah bersatu.

Setiap sore, aku pasti jalan-jalan sama verrel.

Mengelilingi sebuah kota dan melihat dunia yang begitu indah. Tapi tak seindah hubungan kami.

Di sebuah taman Nadia dan Verrel duduk sambil berbicara.

“Verrel apakah kamu yakin suatu saat nanti kita akan tetap bersama seperti ini?” ujar Nadia.

Baca Juga  Ikhlas di Atas Luka

“Aku yakin, suatu saat kita pasti akan bersama. Jalani aja dulu, ikuti alur bagaimana kedepannya, ” jawab verrel dengan penuh senyuman.

“Lantas bagaimana Tuhanku dan Tuhanmu mengerti dua insan manusia yang saling mencintai satu sama lain, ” ujar verrel sambil mengusap kepala Nadia.