Kita yang Seamin namun Tak Seiman
Nadia terdiam, sambil melamun. Bagaimana dengan hubungannya yang berbeda agama itu. Jika memang cinta beda agama tidak direstui, lantas mengapa aku dan dia dipertemukan.
Konsekuensi mencintai seseorang yang beda agama itu sulit. Amin yang sama namun iman yang beda. Yang diminta bukan lagi untuk membersamai melainkan untuk diridhoi dalam ikatan yang direstui-Nya.
“Kita tidak akan mungkin bersatu Verrel, sedangkan dalam agamaku saja wanita Islam tidak boleh menikah dengan laki-laki yang tidak beragama Islam. Begitupun sebaliknya,” jelas Nadia dengan wajah yang cemberut.
“Jadi apa mau kamu Nad, kamu mau kita berpisah?” tanya verrel sambil memandang Nadia.
“Sebenarnya aku tidak ingin kita berpisah, sementara hubungan kita sudah telanjur lama. Menjalin hubungan tiga tahun itu tidak mudah verrel, ” ujar Nadia dengan wajah sedih.
“Tapi, kita takkan mungkin selalu bersama. Iklhas tidak ikhlas kita harus berpisah,” ujar Nadia lagi sambil meneteskan air mata.
“Ada dinding teramat tinggi yang memisahkan kita, yaitu takdir yang diberikan Tuhanku dan Tuhanmu. Memang takdirnya membuat kita bertemu dan jatuh hati, tapi tidak untuk bersama dan memiliki,” kata Verrel sambil tersenyum kesedihan.
“Verrel, biarpun kita berpisah. Tapi kita jangan pernah asing ya. kita akan jadi teman selamanya, semoga kamu mendapat wanita yang lebih baik dari aku, yang seagama dengan kamu,” ucap Nadia sambil mengusap air mata yang jatuh dipipi-nya.
“Tidak akan pernah aku melupakanmu Nadia. Semoga kamu juga dipertemukan dengan lelaki yang lebih baik dari aku. Yang seagama dengan kamu,” jawab Verrel sambil mengusap punggung Nadia dan wajah yang menahan tangisan.
“Aku merasa beruntung ketemu kamu, tapi kenapa kita harus beda agama,” ujar Nadia sambil menangis sesegukan.
Cinta beda agama, ada pepatah yang mengatakan “Apa yang di paksakan akan berakhir tidak baik-baik saja” sama halnya dengan beda agama kita tidak bisa memaksakan kalau kita harus bersama selamanya.
Verrel dan Nadia adalah dua orang yang saling mendoakan tetapi tidak bisa dipersatukan oleh Tuhan dan tidak direstui oleh semesta.
Saling mengucapkan amin, meski berbeda iman. Sepenuh hati berdoa, meski tidak bisa berdua.
Tuhan tidak pernah jahat, kita yang menentang akal sehat. antara adzan yang berkumandang dan lonceng yang yang berdentang, antara kiblat yang tentukan arah pulang dan salib yang membuatmu tenang, antara manisnya syahadat dan dahsyatnya syafaat, antara hitungan tasbih dan kalungan rosario.
Ternyata semesta tidak main-main menciptakan perbedaan, selalu ada kata ikhlas di setiap perbedaan.
Navisha Bilillah, Siswa SMAN 3 Toboali

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.