Oleh: Meilanto

BUDAYA, TIMELINES.ID — Selain itu siapkan kayu yang berfungsi sebagai pemukul sebesar jari telunjuk orang dewasa dengan panjang sekitar 15 – 20 cm.

Cara memainkannya, bilah-bilah kayu mang disusun di atas kaki yang berselonjor (ngunjur) dengan bagian dalam berada di bawah.

Kayu mang akan mengeluarkan bunyi khas, tang – tung – tang – tung.

Alat ini bisa mengusir kesunyian dan kesendirian di kala menunggu ume. Hama-hama terutama kera dan sejenisnya tidak berani mendekat ke ume.

Proses selanjutnya adalah ngetam. Pagi harinya sebelum ngetam, petani atau orang yang dituakan atau dukun harus mencari rumpun padi yang tangkainya bertautan tiga dengan rumpun yang lain.

Baca Juga  Belajarlah Melepaskan

Mencari tiga tangkai padi yang bertautan tersebut harus benar-benar padi yang bernas dan harus mengelilingi ume secara keseluruhan.

Setelah didapat, kemudian tiga tangkai padi yang bertautan tersebut dipotong dan selanjutnya dibawa ke pondok dan digantung atau disisipkan diresam atau atap pondok.

Tiga tangkai padi tersebut berfungsi sebagai pengati (penarik semangat padi yang lain). Hal ini bertujuan supaya “semangat” padi tetap ke rumah atau berpihak kepada sang empunya padi.

Setelah itu baru proses ngetam dilakukan. Selama proses ngetam, tiga tangkai padi tersebut harus diasapi dengan kemenyan dan sesekali diletakkan dikarung padi-padi yang lain.

Tiga tangkai padi tersebut boleh diambil kembali setelah proses ngetam selesai seluruhnya. Proses pengasapan dilakukan oleh dukun atau petani itu sendiri.

Baca Juga  Klandestin

Orang-orang yang ngetam padi tidak diperbolehkan membelakangi pondok. Ini pantangan besar dalam ngetam. Ini bertujuan supaya semangat padi tetap diarahkan ke pondok.    

Ngetam dilakukan dengan gotong royong atau mengajak orang-orang terdekat sanak saudara.

Padi-padi yang nguning dipotong dari tangkainya dan dimasukkan ke kiding. Masing-masing orang dengan satu kiding. Setelah kiding terisi penuh, selanjutnya dimasukkan ke tulok atau lanjong.