Karya: Nurul Janah Gustina, Siswi Penerima Beasiswa PT Timah Tbk di SMAN 1 Pemali

Senin pagi, dengan cuaca cerah, tidak panas, tidak juga mendung, burung berkicau dan angin sepoi-sepoi berembus meniup rambut seorang gadis berumur 15 tahun bernama Nayla Alexandra. Puas menikmati pagi dengan wajah tegang, gadis berambut panjang hitam kecoklatan itu bergegas melangkah ke sekolah barunya. Lebih tepatnya, sekolah sementara untuk menerima informasi beasiswa ke luar negeri.

Nayla memiliki wajah cantik, tubuh ideal, dan otak yang pintar. Ia termasuk salah satu siswa yang beruntung karena mendapat kesempatan belajar di Negeri Sakura dalam acara pertukaran pelajar yang diselenggarakan oleh pemerintah.

“Akhirnya keluar! Semoga aku termasuk dalam daftar,” ucapnya lirih sambil beranjak menuju papan mading.

Seketika, wajahnya yang tegang sedari pagi menghilang dan digantikan dengan wajah cerah penuh senyuman, suatu keindahan yang bisa menyebabkan orang tersenyum tanpa tahu sebabnya.

“Aku lulus ujiannya! Terima kasih! Terima kasih yaa Tuhan!” Ia terus berucap dengan suara rendah, takut dikira gila.

Baca Juga  Pelangi setelah Hujan

Ingin rasanya Nayla langsung pulang ke rumah dan mengatakan ini kepada orangtuanya. Namun, ia harus bersabar menunggu sampai bel tanda pulang sekolah berbunyi. Untungnya sepanjang pengarahan ia masih bisa fokus dengan arahan yang harus dilakukan ketika sampai di sana. Tentang asrama, siapa teman sekamar, dan segala informasi yang dibutuhkan, meskipun nanti akan dibimbing oleh guru yang telah ditentuan di sana.

Kriiing … kriiing … kriiingg

“Akhirnya pulang, ya ampun, aku benar-benar tak sabar ingin mengatakannya kepada orang tuaku, dan juga, semoga di sana aku mendapat sahabat sejati,” ucapnya sekaligus doanya, karena ia tahu, setiap orang yang ingin mendekatinya selama ini hanya karena mereka butuh bantuan, setelah itu, ketika bantuan sudah didapat, ketika ia tak mampu lagi, mereka semua meninggalkannya.

Lagi dan lagi, tak pernah bosan ia dimanfaatkan oleh temannya yang terselubung dengan kata menolong, tak pernah pula ia membenci orang yang seperti itu. Karena baginya, tak ada waktu untuk membenci, yang ada hanyalah waktu untuk belajar dan menolong. Tentunya, selama mereka tak bertindak kasar, ia masih bisa mentolerirnya.

Baca Juga  Impian Syarifah

Nayla sangat bersemangat, ia gowes sepeda polygonnya dengan cepat. Sesampainya di rumah, ia melihat mamanya dan langsung berteriak kegirangan.

“Ma! Aku lulus, Ma! Aku bisa ke Jepang besok. Hebat kan, Ma?” girangnya.

“Tentu saja hebat, Nayla kan anak Mama Lisa dan Papa Alex, kamu udah siap-siap, kan? Tunggu Papa pulang terus bilang sama Papa, ya,” jawab Lisa dengan tulus, tak pernah ia berbicara kasar dengan anak semata wayangnya ini.

Setelah makan malam, membicarakan kelulusannya, dan beres-beres, ia langsung beristirahat di pulau kapuk andalannya, sambil mengingat-ingat kamar asramanya dan arahan-arahan yang diberikan siang tadi. Agar tidak lupa sewaktu di Jepang nanti.

Jam 08.00, Nayla menunggu bersama 9 anak lainnya di bandara, menunggu pesawat yang akan mengantarkan mereka ke Negri Sakura. Mama Lisa masih menemani Nayla sampai akhirnya melihat putrinya benar-benar berangkat, lalu kembali ke rumahnya seraya berdoa dalam hati, semoga anak semata wayangnya aman dan sehat selalu di sana.

Baca Juga  Duka Seorang Ibu, Tribute to Hafidzah (1)

Di dalam pesawat, Nayla kembali melihat brosur asrama dan biodata teman sekamarnya. Xue Linxia dari China dan Yukari Hayasaka dari Jepang. Dalam hatinya, ia menjerit tak sabar bertemu dengan teman sekamarnya, ia mulai berkhayal nanti mereka akan bertukar bahasa, belajar bersama, dan lain-lain. Sampai tak terasa, ia sudah sampai di Jepang. Segera, ia mengikuti guru pembimbing yang sudah menunggu di bandara kota Tokyo.

Setelah menjelaskan arah jalan dan hal-hal umum seperti penggunaan kartu kendaraan umum, guru pembimbing langsung menyuruh Nayla dan 9 anak lainnya ke asrama mereka. Setelah itu, barulah Nayla memilih tempat tidurnya, dikarenakan kedua teman sekamarnya belum datang, jadi ia bebas memilih.

“Beres! Saatnya menunggu Yukari dan Linxia,” ucapnya sambil tersenyum, membayangkan hari-hari yang menyenangkan ke depannya.