Oleh: Yan Megawandi

Menjelang pilkada ulang di Kabupaten Bangka dan Kota Pangkalpinang Agustus mendatang, “suhu” terasa mulai semakin bergerak naik, walaupun mungkin belum terlalu hangat.

Apakah ini karena pengaruh pendanaan pilkada ulang tersebut yang nampaknya belum jelas betul? Atau nama-nama yang muncul masih belum terlalu ‘nendang’? Atau, silakan buatkan sendiri daftar pertanyaan-pertanyaan anda.

Tetapi lihatlah nuansa politik praktis yang berkembang di masyarakat. Seperti dunia pertunjukan, panggung pilkada kini mulai menjadi pusat perhatian. Berbagai pihak mulai berlomba-lomba mengambil kesempatan.

Mencari momentum untuk tampil, berusaha menonjol, dan meraih perhatian. Panggung ini, bagai panggung teater besar, telah disiapkan dengan harapan dapat menghibur, memukau, dan tentunya memuaskan penonton yang menanti sajian.

Seperti yang sering terjadi dalam dunia pertunjukan, tidak semua yang tampak mengesankan di luar sana akan seindah yang diharapkan. Bila sajian yang ada mengecewakan, penuh kebohongan, atau bahkan terasa menjenuhkan, tunggulah balasan dari penonton.

Reaksi mereka akan datang, tak terelakkan. Penonton yang awalnya tenang akan berubah menjadi penilai yang kritis, bahkan mungkin menjadi lebih jeli daripada para pemain di atas panggung.

Membuat panggung politik tentu bukan hal yang mudah. Ada yang memilih panggung sederhana, dengan akting yang apa adanya. Namun, ada pula yang merancang panggung dengan teknologi canggih, penuh efek dramatis, kadang-kadang membuat penonton bingung, siapa yang sebenarnya menjadi pemain dan siapa pula yang jadi sutradara.

Baca Juga  Khasiat Lempah dan Rusip bagi Guru

Dalam situasi seperti ini, peran bisa berubah-ubah tanpa diduga. Kadang, mereka yang semula hanya penonton, tiba-tiba terjun ke atas panggung menjadi sutradara atau bahkan pemain utama.

Tak jarang, di balik panggung politik, skenario bisa bergonta-ganti sesuai dengan kebutuhan sang pemilik lakon. Yang terpenting adalah bagaimana cara menarik perhatian masyarakat, tanpa memikirkan batasan etika yang seharusnya dijaga.

Inilah salah satu bahaya panggung politik yang tak jarang mengaburkan bahkan menghilangkan nilai-nilai kesantunan dan kepatutan. Bahkan, ada pihak-pihak yang mencoba membawa model panggung yang mungkin sukses di daerah lain, namun tak cocok dengan karakter masyarakat lokal. Sehingga, muncullah kekeliruan dalam penyajian yang justru membuat penonton merasa terasing.

Satu hal yang pasti, apapun sajian yang dipertontonkan, pilkada ulang ini akan menjadi momen penting yang dinantikan. Panggung yang penuh intrik dan drama ini, entah disadari atau tidak, akan membentuk wajah baru masyarakat yang semakin kritis, lebih cerdas dalam menilai, dan siap memberi penilaian bagi setiap pemain yang berusaha menampilkan peran terbaik mereka.

Baca Juga  Adu Prosesor Intel Versus AMD Mana yang Lebih Baik? Ini Keunggulannya

Bila jeli melihat dan mengamati kondisi yang belakangan berkembang, memang terasa peningkatan suhu di Bangka Belitung. Utamanya di dua daerah tempat gelaran pilkada ulang akan dilangsungkan. Mulai terasa maraknya pemberitaan yang hangat dan bernada provokatif.

Mulai pula muncul berita tentang promosi sosok-sosok yang punya hasrat bertarung di pilkada nanti. Anda mungkin juga bingung bila tiba-tiba muncul nama atau sosok yang selama ini tak tahu dari mana rimbanya, tiba-tiba muncul di banyak tempat dan peristiwa. Lengkap pula dengan iringan pengerahan masa dan pemberitaan di media massa dan media sosial.

Terkadang ditingkahi dengan munculnya pasukan-pasukan ‘hore’ alias pemandu sorak. Bisa dalam bentuk seperti unjuk rasa atau unjuk kebolehan, maupun unjuk-unjuk yang lainnya. Pokoknya ramai. Apa lagi isu yang dimunculkan. Mulai dari isu-isu baru, dibuat seolah-olah baru, atau malah yang sudah basi sekalipun coba dipanaskan untuk dihidangkan kembali. Bagi yang tak terlalu memahami soal isu dan kepentingannya bisa saja ikut larut didalamnya. Ikut-ikutan komentar, teriak, atau bahkan ngamuk sekalian.

Intelijen dan Wartawan

Di balik semuanya kita masih menyakini bahwa yang piawai tentang membaca fenomena ini tentu saja teman-teman kita yang bergerak di bidang intelijen. Apakah itu di lembaganya yang memang punya judul intelijen, atau perorangan yang memang memahami dan memiliki kemampuan intelijen. Oh ya, satu lagi tentu saja kalangan yang berprofesi wartawan.

Baca Juga  Pantai: Basah tapi Bukan Lautan, Kearifan Lokal yang Mulai Mengering

Tapi ini yang benar-benar wartawan. Karena konon cukup banyak juga orang yang mengaku-ngakunya wartawan tapi kerjanya ternyata bukan wartawan. Anda pasti sudah paham apa yang saya maksudkan. Mengapa harus wartawan yang sebenarnya? Karena pekerjaan jenis ini membutuhkan sejumlah kemampuan yang mendekati sosok seorang intelijen.

Memang benar profesi wartawan dan intelijen, meski sering kali terlihat berada dalam dua dunia yang berbeda, ternyata punya beberapa kesamaan yang cukup menarik. Mari kita lihat sejenak apakah dua profesi ini bisa dipandang dari sudut yang lebih mirip daripada yang kita kira.

Pertama, pengumpulan informasi. Ini adalah jantung dari kedua profesi. Wartawan mencari berita, menyusun narasi dari fakta-fakta yang terhampar, sementara intelijen memburu data dengan ketelitian seorang detektif yang semuanya demi menemukan gambaran besar.

Bedanya, wartawan mengarahkan informasinya untuk dibagikan ke publik, sementara informasi intelijen lebih diarahkan ke pengambilan keputusan yang bisa memengaruhi keamanan atau kebijakan strategis.