Pencari Panggung Pilkada, Intel dan Kuli Tinta
Kemudian, ada pula yang namanya analisis. Kedua profesi ini mengolah informasi untuk mencari tahu apa yang tersembunyi di balik fakta yang ada. Wartawan mengonversi data menjadi cerita yang hidup, sedangkan intelijen mencari pola yang ada buat melangkah lebih jauh.
Jadi, walaupun alat yang digunakan berbeda, keduanya punya tujuan yang sama yaitu: memahami sesuatu yang tidak terlihat langsung.
Di balik itu, ada sumber-sumber yang menjadi dasar pencarian. Bila seorang wartawan menggali cerita dari narasumber, maka seorang intelijen menggali informasi dari berbagai saluran, entah yang tampak jelas ataupun yang tersembunyi. Karenanya keahlian membangun hubungan dan mencari informasi menjadi andalan utama profesi mereka..
Lalu, yang tak kalah menarik tentu saja adalah kemampuan investigasi. Ini lebih dari sekadar mencari tahu. Ini tentang membongkar lapisan demi lapisan peristiwa untuk mencari kebenaran yang tak langsung terlihat. Wartawan berjuang untuk mengungkap fakta demi publik.
Sementara intelijen bekerja untuk menyusun strategi demi tujuan yang lebih besar. Hasil akhirnya memang berbeda, tapi prosesnya sebelas-duabelas. Serupa.
Ada pula kewaspadaan dan kerahasiaan yang menjadi hal utama. Jangan salah, keduanya harus punya radar yang tajam dalam menjaga informasi yang mereka miliki. Baik itu sumber yang sensitif, ataupun data yang jika bocor bisa mengguncang banyak hal.
Menjaga rahasia adalah bagian dari pekerjaan yang harus dijalankan dengan hati-hati. Sekali rahasia terbongkar, maka aib yang akan tersebar.
Bagaimana dengan pengambilan keputusan? Keduanya mesti membuat pilihan dari informasi yang mereka miliki. Wartawan memilih angle atau sudut yang akan diangkat, yang akan memengaruhi cara pandang masyarakat. Sementara intelijen, dengan informasi yang lebih berat, memilih langkah-langkah yang mungkin menentukan arah sebuah kebijakan atau bahkan nasib sebuah negara atau sebuah organisasi.
Akhirnya, dan ini yang paling penting, ada etika dan integritas. Tentu, meskipun keduanya beroperasi di dunia yang serba cepat, ada satu hal yang tak boleh dilupakan: nilai-nilai yang dijunjung tinggi. Wartawan menjaga integritas dalam memberitakan yang sebenarnya, sedangkan intelijen menjaga etika dalam menjalankan misi demi keamanan bersama.
Jadi, meskipun mereka ada dalam dunia yang tampaknya sangat berbeda, wartawan dan intelijen berbagi banyak kesamaan. Mereka berdua adalah penjaga kebenaran dengan cara yang sangat khas. Terkadang belakangan baru kita menyadari betapa saling berhubungan dua profesi ini.
Tebak-Tebakan
Mereka yang memiliki dua profesi ini mungkin sekarang sedang senyum-senyum. Mereka mengamati berbagai isu yang berkembang, yang begitu banyak dan beragam. Tapi bila dianalisa lebih mendalam sebenarnya lingkarannya hanya itu-itu saja. Ujungnya ialah sejumlah kepentingan yang disimbolkan dengan gambar proklamator berwarna merah itu.
Sementara itu ada pula bakal calon pilkada yang memang sengaja belum naik panggung. Menurut perhitungan golongan ini, mungkin waktunya yang belum pas. Lagi pula nama yang muncul duluan biasanya lebih mudah mendapat gangguan. Lima sampai enam bulan lagi pelaksanaan pilkada ulang mungkin terhitung masih cukup lama untuk mulai beraksi. Bukan apa-apa, biaya yang akan ditanggung oleh bakal calon pilkada bukan main-main.
Soal penyiapan dana, menurut informasi di pasar gelap, diperlukan uang sampai belasan bahkan puluhan milyar rupiah. “Pokoknya kalau tak punya uang minimal 10 milyar rupiah sebaiknya tak usah ikut pilkada. Bisa merana,” ujar seorang teman yang baru saja bertarung sebagai calon bupati di pilkada lalu.
“Memang waktu kita akan maju, banyak sekali yang menyatakan akan mendukung dan membantu. Termasuk soal pembiayaan. Tapi bila sudah bertarung beneran, mereka semua menghilang,” ujarnya. Memang benar uang bukan segalanya. Tetapi di pilkada semua perlu uang.
Ada pula calon yang sedang mengamati situasi dan seluk-beluk untuk menyiapkan langkah-langkah pamungkas di akhir masa pendaftaran, sehingga dana yang tersedia akan terpakai lebih efektif untuk “membeli kendaraan” pencalonan.
Kandidat seperti ini biasanya lebih matang dalam berhitung dan memiliki pendanaan yang kuat. Mengapa demikian? Karena terkadang harga pembelian kendaraan alias perahu untuk maju lebih mirip lelang. Yang bersedia membayar tinggi lebih diperhatikan. Walaupun ada pula pengecualiannya seperti kesamaan visi, kedekatan pribadi, atau pun rekomendasi alias surat sakti dari Jakarta.
Kandidat yang masuk di saat-saat akhir pada pilkada di Kota Pangkalpinang dan Kabupaten Bangka nanti pasti sudah bisa menghitung secara cermat dan lebih berpengalaman, untuk melihat pasangan seperti apa dan berapa jumlah yang harus dihadapi.
Berapa jumlah pasang kandidat ini sangat penting. Karena ada yang memang mengharapkan semakin banyak kandidat yang bertarung. Ada pula sebaliknya, berusaha bersaing head-to-head alias hanya dua pasang saja.
Pertanyaan tebak-tebakannya: siapa kandidat yang mengharapkan semakin banyak peserta yang ikut akan semakin membuka peluang kemenangan mereka? Siapa pula yang berharap akan berhadapan langsung dua pasang saja? Para pembaca yang berbakat jadi intel dan wartawan pasti sudah bisa menebaknya. Salam takzim.
Penulis merupakan Ketua Asosiasi Tradisi Lisan dan Pemerhati Budaya Bangka Belitung.
