Karya: Fauziah Heriyansyah

Aku sekarang sedang terbaring lemah di rumah sakit. Kata dokter, aku mengidap penyakit yang amat mematikan. Aku tak tahu apa nama penyakitnya, yang kutahu satu bagian dari jantungku bocor. Aku baru tahu pula bahwa keadaan tubuhku yang sering cepat lelah adalah salah satu tanda dari penyakit ini.

Meski sedih memikirkan sakitku, aku sangat senang karena ada bidadari di sisiku. Ya, memang bidadari di dunia. Dia kusebut bidadari karena berkat dialah, aku bertahan hidup hingga kini. Dan dia adalah orang yang merawatku sejak umurku 8 tahun.

Jauh sebelum penyakit ini menggerogotiku, bidadari itu selalu menyambut kedatanganku di mana pun aku berada, dia selalu bertanya hal-hal seru yang aku lakukan selama bersekolah dengan siapa aku bermain, dan apa yang aku lakukan bersama teman-teman di dunia maya.

Bidadari itu juga sering membacakan dongeng sebelum tidur untukku, memintaku agar bermimpi indah seperti indahnya gambaran tentang bidadari di taman surgawi, seperti juga Bidadariku ini.

Baca Juga  Pesona Nona

Dia meneteskan air matanya saat aku terbaring sakit, seperti sore tadi. Dan dia pula yang membelai rambutku saat menangisi keadaanku.

“Cepat sembuh, Sayang,” ujarnya lirih di dekat telingaku. Tangannya kemudian meraihku kencang seakan tak ingin jauh dariku. Bidadariku selalu memberikan pelukan yang amat hangat, membuat hatiku menjadi tenang dan tenteram.

Bidadariku selalu melindungiku, bahkan jika harus mengorbankan jiwa dan hartanya sekalipun. Dia mungkin akan menyerahkan dirinya pada penjahat jika aku diculik.

Bidadari duniaku memberikan aku kenyamanan. Kemarin malam turun hujan, dan aku merasa sangat kedinginan. Dia menyelimutiku dengan dua selimut agar aku nyaman tidur. Selimut itu membuatku hangat sementara dia mungkin kedinginan tanpa selembar selimut pun.

Bidadari duniaku juga selalu bernyanyi dan membuatku tertawa. “Tidurlah Karina yang cantik, mimpilah indah tentang bidadari,” bisiknya sambil membelai rambut halus di kepalaku. Ah indahnya, seperti berada di surga!

Oh ya, kita belum sempat berkenalan. Namaku Karina Nur Azizah (Ini nama yang diberikan Bidadari Dunia setahun setelah aku diadopsi). Aku adalah seorang gadis kecil yang manis. Itu kata bidadariku lho… hehe. Sekarang aku bersekolah di Islamic Centre Homeschooling, kelas empat. Umurku 9 tahun. Aku besar di panti asuhan Al-Ikhlas yang terletak di sudut kecil di pinggiran Jakarta.

Baca Juga  Bimantara Gulita

Aku tak mau berlama-lama lagi untuk menceritakan siapa sosok yang kukagumi itu. Sebenarnya,  Bidadari Dunia itu adalah….Bundaku! Namanya Bunda Laila. Aku tak ingat nama lengkap bunda yang sering kuanggap bidadari itu. Bundaku ini tidak mempunyai suami dan anak, mungkin karena itu dia mengadopsi aku.

Bundaku suka sekali memakai jilbab putih dengan paduan warna lembut. Boleh dibilang, saat pertama kali aku bertemu dengan bunda angkatku itu, aku kesal, tetapi bundaku tetap sabar dan sedikit demi sedikit mengajarkan kepadaku tentang akhlaqul karimah dan tuntunan agama Islam, sehingga sekarang aku ingin menjadi anak yang shalehah.

“Bunda,” panggilku kepada Bunda. Aku menatapnya dari ranjang tempat tidur. Bunda langsung mengulum senyum dan membalas,

Baca Juga  Kepala Sekolahku

“Iya, apa, Sayang?” tanya Bundaku.

“Karin mau minta satu permintaan,”

“Permintaan apa, Sayang?”

“Sebelum Karin meninggal, Karin mau pelukan dari Bunda,”

“Karin sayang, kamu jangan memikirkan tentang kematian, nanti Bunda kesepian!”

Bundaku langsung bermuka agak marah, kaget mendengar anaknya bicara seperti itu. Namun, rasanya memang seperti ‘sudah dekat kematian itu memanggilku. Bundaku menunduk dan memalingkan wajahnya dariku, tapi aku tahu ada titik-titik air mengalir dari matanya.

“Aku mau satu pelukan dari Bunda!”

“Iya, Sayang!”

Bunda langsung menuju kasurku lagi. Dia mencoba menggapaiku. Aku memang tidak bisa bergerak bebas, oleh karena itu setiap hari aku hanya bisa terbaring di tempat tidur, tanpa melakukan apa-apa. Oh… hangat sekali pelukan dari bundaku ini. Benar saja, hatiku menjadi tenang karena ada pelindung jiwaku ini.

Namun, kemesraan dan kehangatan itu tidak terasa lama. Tiba-tiba saja, aku tidak bisa bernapas, dadaku sesak. Ingin aku menangis sekencang-kencangnya, tapi tak bisa.