Karya: Fauziah Heriyansyah

Kamu sekolah mau masuk sekolah mana?” tanya Bu Laila.

“Aku mau …,” jawabku terputus-putus.

“Mau di mana, Karina? Lippo One School? Jakarta First International School? Bekasi Boarding School?”

“Aku mau melihat-lihat dulu!” teriakku.

Aku pun dibawa keliling kota, sesekali kami berhenti di satu sekolah, kemudian pergi lagi. Sekarang, kami berhenti di LOS atau Lippo One School.

“Lihat ini, ada kolam renang, asrama, radio, TV, dan fasilitas lainnya. Ayo pegang tangan Bunda, Karin! Kita berkeliling!” ajak Bunda? Bu Laila. Aku bingung. Sejak kapan ia menyuruhku memanggilnya Memangnya aku mau?

“Aku enggak mau pegang tangan kamu! Kamu bukan ibuku!” kataku ketus.

“Astaghfirullah, Nak, jangan seperti itu, walau kamu bukan anak kandung Bunda, tapi kamu harus tetap memanggil saya Bunda. Karena mulai sekarang saya adalah ibumu. Bisakah Karin menganggap Bunda seperti ibu Karin sendiri?” tanya Bu Laila dengan wajah tersenyum, namun terlihat sedih di kedua bola matanya.

Aku pun turun dari mobil dan langsung berjalan tanpa menggenggam tangan Bu Laila. Huh! Tidak ada yang boleh memegang tanganku kecuali teman-teman di Al-Ikhlas, Bunda Aisyah, dan orangtua asliku!

Masuk ke halaman sekolah, aku melihat sebuah padang taman yang amat luas, penuh dengan arena permainan, dan sangat asri. Tetapi aku tidak tertarik!

Baca Juga  Bidadari Dunia (Tamat)

Aku pun berkeliling di tepi kolam renangnya, ada dua kolam yang besarnya lebih besar dari sebuah rumah. Kita akan kelelahan bila nekat sampai ke ujung kolam! Tetapi, aku tidak mau! Aku tidak bisa berenang!

Aku pun mengunjungi studio radio. Setelah itu studio TV. Sangat mewah memang, dan fasilitasnya lebih bagus daripada rumah mewah sekalipun, tetapi aku tetap enggak mau ah!

“Bagaimana?” tanya Bu Laila.

“Enggak ada yang bagus!” kataku tanpa melihat wajahnya sedikitpun.

“Ya udah, kita ke sekolah lain!” usul Bu Laila.

Aku pun ke sana kemari mencari sekolah, tetapi tidak ada yang menarik sama sekali! Akhirnya, dengan setengah terpaksa Bu Laila mendaftarkan aku di Islamic Centre Homeschooling,

“Nah, kalau homeschooling, aku baru suka!” aku melemparkan senyum kuda, Sebenarnya itu karena aku tidak mau pergi ke sekolah. Di sekolah, teman-teman pasti akan mengejekku karena aku anak diadopsi.

Aku pun mendaftar secara online di sekolah itu. Bu Laila membayar biaya sekolah melalui rekening banknya.

“Nah… sekarang kita ke rumah ya!” ajak Bu Laila.

Aku diam saja, tetapi ikut masuk ke dalam mobil.

Baca Juga  Ngobeng dan Strongkeng

Sesampainya di rumah Bu Laila…

Aku melihat rumah yang megah di hadapanku. Rumah bertingkat tiga itu menjulang ke atas. Wow…

Aku pun langsung melihat ke dalam. Bagus sekali!!!

“Nah, sekarang kamu belajar untuk homeschoolingmu, kamu buka website nya ya!” perintah Bu Laila.

Aku pun mengetik di komputer dengan layar LCD yang nyaris sebesar layar bioskop mini. Aku mengetik: aku langsung membukanya dan melihat apakah ada tugas untukku.

Tugas pertama untuk Karina adalah… Ada tulisan itu di account homeschooling ku. Aku langsung membacanya. Ada dua pertanyaan yang harus dijawab:

  1. Coba sebutkan satu alasan kenapa kamu masuk sekolah ini!
  2. Sebutkan beberapa situs internet yang membuat orang dapat bersosialisasi!

Cara menjawabnya:

Reply tulisan ini dan kirim kembali ke sini.

Aku cukup lama memandangi tulisan itu. Aku melihat Bu Laila sedang memandangiku Ambil tersenyum.

“Jangan di kamarku! Aku sedang mengerjakan tugas!” kataku kepada Bu Laila.

Bu Laila keluar kamarku dengan muka sedih. Huh, biarkan saja! Aku tidak suka diganggu saat mengerjakan tugas!

Aku pun menjawab pertanyaan itu dengan jawaban seperti ini:

  1. Disuruh ‘perempuan dewasa’ yang menyebutku sebagai anaknya.

Jawaban untuk soal kedua aku tidak tahu. Aku pun langsung membuka buku pintar dan menjawabnya.

  1. Facebook, Twitter, Friendster, Blogger, Multiply.

Selesai deh tugasku! Setelah mematikan komputer aku keluar dari kamar. Bu Laila yang menungguku menyambut dengan senyuman.

Baca Juga  Hikayat Jiwa

“Gimana tugasnya?” tanyanya.

“Bukan urusan Ibu!” gertakku.

“Karin, kamarmu dipindahkan ke sana ya!” ujar Bu Laila sambil menunjuk sebuah kamar

“Ya udah… terserah!” jawabku keras.

Paginya…

Mataku berkunang-kunang. Kepalaku berputar putar. Hah… tidurku tidak nyenyak semalam. Lalu aku langsung menuju ruang komputer untuk mengecek nilai tugasku. Sesampainya di sana…

Hmm… ada Bu Laila di sana. Aku jadi tidak

Bersemangat!

“Ayo kita lihat hasilnya!” senyum Bu Laila.

“Cerewet..!” ejekku dengan suara lirih.

Bu Laila langsung keluar kamar dan sedih. Perlahan dia berkata, “Kau anak yang… ku… rang…,” Bu Laila jadi enggan untuk mengatakan terusan dari kata itu. Aku pun langsung membuka www.islamiccenterhomeschooling.org dan langsung melihat ke folder.

Nilai untuk Karina Bunga Citra Lestari Cantik: 6.

“Hah? Enam?”

Aku langsung membalas pesan tersebut dengan menulis sebuah kata: kenapa?

Tak lama berselang, muncul sebuah pesan: Tidak mengakui ibu sendiri adalah perbuatan buruk. Dan ini mengurangi skor yang Anda peroleh.”

Aku tidak mengerti!

Mengakui ibu sendiri? Hei, dia bukan ibuku, tau!