Bidadari Dunia (Tamat)
Karya: Fauziah Heriyansyah
Tak terasa sebulan sudah Bu Laila dirawat di rumah sakit untuk masa pemulihan setelah operasi. Sampai kini, kami belum mengetahui siapa orang yang mendonorkan hati untuk Bu Laila. Dokter tak bisa menyebutkan identitas perempuan itu karena ia sendiri yang meninta untuk dirahasiakan identitasnya.
Kondisi Bunda sudah mulai membaik. Tak lama lagi mungkin Bunda boleh meninggalkan rumah sakit.
Tok tok tok… Terdengar suara pintu diketuk. “Permisi, Bu Laila,” sapa seorang suster.
“Iya, Suster,” jawab Bunda.
“Bu, ada titipan surat dari seorang ibu. Dia baru saja meninggalkan rumah sakit ini pagi tadi.”
Bunda menerima surat dengan kertas. Sederhana yang dilipat. Lalu ia membacanya.
Dear Laila,
Aku sangat kaget ketika seorang gadis kecil memberitahuku bahwa kau sakit kanker hati dan untuk menyembuhkannya perlu seseorang untuk mendonorkan hatinya. Saat itu kebetulan aku habis menjenguk temanku yang dirawat di rumah sakit ini. Aku mengingat saat kita kecil bola matamu ditukar denganku karena aku merasa kurang cantik. Sejak dulu, aku memang mengagumi matamu yang indah dan uang satu miliar yang kupinjam darimu belum kukembalikan. Karena itu, aku mendonorkan hatiku untukmu, agar aku bisa membalas utang budiku padamu. Terimakasih.
Wassalamualaikum.
Salam sayang
Saudara perempuanmu, Laina
Bu Laila langsung menangis saat membacanya. Berarti, ibu yang waktu itu adalah adik Bu Laila!
Setelah kondisi bunda membaik, aku ke ruangan pembayaran dan langsung membayar biaya perawatan dan operasi. Tentu saja ditemani Pak Pur.
Bu Laila diam saja menatapku. Aku memalingkan wajah. Duduk lama di kursi menjaga Bu Laila membuatku hampir tertidur. Tiba-tiba saja…
“Bu Laila! Ibu jangan pingsan! Bu Laila!” aku menjerit mendapati Bu Laila yang matanya terpejam dan tidak bergerak sedikit pun.
“Bunda! Maafin Karin yang sering salah sama Bunda!” teriakku. Aku tidak percaya dengan apa yang kukatakan sendiri. Entah mengapa di dalam hatiku ini aku merasakan sesuatu yang aneh. Melihat Bu Laila dengan keadaan seperti ini membuat hatiku perih.
Apakah aku… mulai menyayanginya?
“Bu Laila!” Aarggh! Kenapa aku tidak bisa memanggilnya ‘Bunda’? Baik, akan aku coba lagi. Ah! Bu Laila akhirnya siuman dan aku tersenyum lebar melihatnya. Aku langsung memeluknya dan mencium pipinya.
“Makasih… Bu… Bunda… Mau Karina suapin?” tanyaku kepada Bunda.
“Mau…,” jawab Bunda senang. Ia mendengar dirinya dipanggil dengan sebutan ‘Bunda’, bukan ‘Bu Laila’. Senang
“Makasih ya, Karina,” kata bundaku lagi.
“Sama-sama,” jawabku sambil tersenyum lebar.
Aku pun menceritakan kejadian bundaku sakit dari awal sampai akhir. Termasuk tentang pertemuanku dengan Bu Laina dan uang pembayaran rumah sakit. Bundaku mendengarkan tanpa melepaskan senyum dari bibirnya.
“Kalau Bunda sudah sembuh kita ke taman hiburan, yuk!” kata Bunda. Sepertinya kesehatannya pulih dengan cepat setelah mengobrol denganku tadi.
“Wah, asyik!” jawabku.
Tiba-tiba saja, dokter datang.
“Bu Laila, Anda sudah sehat dan bisa pulang sekarang,” jelas dokter itu. Senyumku melebar mendengarnya. Infus Bunda pun dicopot. Dan setelah semua urusan rumah sselesai, kami pulang naik taksi.
Sesampainya di rumah…
“Kita akan ke taman hiburan lusa!” hibur Bunda.
“Yey!! I LOVE YOU, BUNDA!” aku berterima kasih. Aku mencium pipi Bundaku dan memeluknya erat. Aku senyum kuda, bundaku membalas dengan tersenyum lebar dan mencubit kedua pipiku.
“Bunda emang top banget!” pujiku. “Tapi sakit nih, Bun! Lanjutku sambil mengusap- usap pipiku.
Kalau mengingat cerita ini, aku selalu tersenyum. Inilah awal bagaimana aku sangat menyayangi Bidadari Dunia. Fyuh… enggak selamanya kok aku nakal sama Bunda, hehehe…
****
Mentari tampak menyinari dunia dengan energi maksimum. Semua orang pasti akan lelah oleh sinarnya. Kalau aku… mending tidur! Hehe…
Kring… Kring… Kring…
Telepon berdering di lantai bawah. Aku langsung menuruni tangga dan mengangkat gagang telepon.
“Halo… ini rumah Ibu Laila? Ini dari Rumah Sakit Zeta Cinta Ibu…,” kata suara di seberang sana.
“Iya, benar. Ada apa ya?” tanyaku penasaran.
“Ini pasti anaknya ya? Ibu kamu dirawat di sini. Menurut orang yang mengantarnya, ia pingsan saat bekerja…”
Oh, tidak, kenapa Bunda bisa pingsan lagi? Bukankah ia sudah sembuh?
“Baiklah, saya akan segera ke sana.”
“Baik, ditunggu segera.”
Usai menaruh gagang telepon itu, aku terdiam sejenak. Hatiku gundah, jantungku berdegup kencang. Ada apa dengan Bunda? Ya, Allah… semoga tidak terjadi apa-apa padanya.
Ah, aku tak boleh berpikir macam-macam! Aku harus segera ke rumah sakit!
“Pak Puuurrrr…,” teriakku memanggil Pak Pur untuk mengantarku ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung menuju bagian informasi untuk menanyakan ruangan tempat Bunda dirawat.
“Di ruang A, nomor 1…,” jelas seorang perempuan berseragam putih-putih. Aku langsung menuju ruangan yang dimaksud.
Sesampainya di ruangan itu…
“Bunda enggak kenapa- napa kan?” tanyaku khawatir.
“Iya…,” suara Bunda terdengar lemah tak bertenaga.
Aku jadi sedih melihatnya. Bunda yang kemarin masih ceria dan penuh semangat, sekarang terkulai lemas di tempat tidur. “Allahu Akbar… Allahu Akbar…”
Azan zuhur berkumandang. Aku tak memerhatikan dan masih saja membaca buku yang berjudul ‘Ibu’. Sebenarnya, aku membaca buku itu hanya untuk menutupi rasa khawatirku pada Bunda. Soalnya, kalau terus melihat wajah Bunda, aku bisa menangis, dan itu pasti akan membuat Bunda ikut sedih.
