Karya Sheila Fiorencia Caroline

Penyangkalan

Aku tidak melihatnya melintasi pintu itu. Aku belum melihatnya sejak siang itu.

Dia hanya bermain, tidak akan ada masalah. Dia selalu pulang sebelum jam maghrib.

Kalaupun tidak, aku akan selalu menemukannya. Namun saat itu, entah bagaimana aku tidak bisa menemukannya.

Aku selalu yakin anakku akan baik-baik saja.

Aku berusaha untuk tetap tenang dan meyakinkan diriku bahwa ini bukanlah hal yang buruk.

Aku tidak perlu berpikir berlebihan. Kata orang-orang anak perlu dilatih mandiri. Siapalah mereka? Semua itu hanya omong kosong.

Tidak ada satupun orang yang melihatnya dan aku tidak bisa menemukannya. Putriku hilang bak ditelan bumi.

Aku terus menatap pintu masuk itu. Pintu yang biasanya menampilkan putriku, baik saat dia pulang sekolah maupun saat lepas pulang bermain.

Baca Juga  Tujuh Karya Keigo Higashino, Novel Angsa dan Kelelawar Rilis Di Indonesia

Aku tidak peduli, bahkan aku akan merelakan jam tidurku untuk menunggu putriku melintasi pintu itu lagi.

Harusnya tidak kubiarkan dia pergi bermain. Harusnya aku lebih memperhatikannya. Harusnya aku bisa membawanya pulang.

“Bu, makan dulu,” ujar anak sulungku kala itu.

“Enggak, nak. Ibu mau makan sama Hafidzah. Kalian makan saja duluan.” Setelah mendengar jawabanku, dia tidak lagi mengatakan apa-apa.

Aku melihat sekilas kekecewaan dari raut wajahnya sebelum ia pergi dengan lesu menuju dapur.

Keesokan harinya, aku dan suamiku melaporkan hilangnya putriku.

Tim gabungan langsung berpencar mencarinya dari satu tempat ke tempat lain.

Begitu banyak pertanyaan dan aku tidak yakin bisa menjawab semuanya.

Bahkan, aku tidak yakin apakah mereka benar-benar akan mengembalikan putriku.

Tepat empat hari sudah putriku menghilang. Semua orang telah pesimis, tapi aku masih yakin dia baik-baik saja di suatu tempat.

Baca Juga  Malam di Ujung Selatan

“Kami akan terus mencari Hafidzah sampai ketemu, Ibu. Berdoa kepada Allah yang terbaik saja, ya. Kami tim kepolisian akan berusaha semaksimal mungkin.”

 “Tolong, Pak. temukan anak kami. Bagaimanapun kondisinya.”

Sesaat aku terkejut mendengar permintaan dari laki-laki yang menjadi ayah bagi Hafidzah, anakku.

Satu kata yang selalu coba kusingkirkan saat malam. Satu kata yang selalu kuhindari setiap memikirkan nasib Hafidzah. Mengapa dia harus mengatakan itu?

Apa dia sudah begitu putus asa? Kenapa dia seolah yakin Hafidzah benar-benar sudah mati? Putriku masih hidup.

Insting seorang Ibu tidak pernah salah. Hafidzah hanya berada di suatu tempat, sendirian dan ketakutan, menunggu seseorang untuk menyelamatkannya.

Malam harinya, kami bertengkar. Tangis kami menggelegar dalam takut di tengah gelap malam. Hafidzah, di manapun kau berada sekarang, ibu harap kau pulang pada kami.

Baca Juga  Apel dan Tomat Kaya Senyawa Antioksidan, Ini Fungsinya

Marah

Polisi itu duduk dengan gelisah di kursinya, ketidaknyamanan terlukis dengan jelas di wajahnya, lima hari putriku hilang, empat hari pencarian dan aku tidak ingin waktuku terbuang dengan kegelisahan polisi tersebut, “Pak, ini sudah empat hari. Di mana anak kami? Kenapa belum juga ada perkembangan?”

Polisi tersebut menghela napas panjang, “Ibu, tim penyelamat akan menutup pencarian.”

Saat mendengar itu, amarahku tiba-tiba saja memuncak, “Apa?! Kenapa, Pak?! Seputus asa itukah Bapak? Kalau polisi tidak mau mencari anak saya, saya bisa cari anak saya sendiri!”

Aku hendak pergi dari kantor polisi, namun suamiku dan polisi itu terus mencegahku, “Bu, sabar dulu, Bu. Jangan gegabah, pak polisi belum selesai bicara.”