Duka Seorang Ibu, Tribute to Hafidzah (1)
Aku berakhir kembali duduk masih dengan perasaan marah yang tak terlukiskan, “Baik, bu. Maaf jika saya tidak menyampaikannya dengan benar kepada ibu. Begini, alasan tim penyelamat menutup pencarian karena… kami menemukan mayat.”
Kabar itu masuk ke telingaku bagaikan sepoi angin malam yang menerpa tubuhku yang selama ini berusaha berdiri tegak.
Waktu tiba-tiba saja berhenti berputar. Aku seolah kehilangan duniaku.
Napasku tercekat hingga tenggorokanku mulai sakit. Kudengar suamiku mengucapkan sesuatu.
“Tapi, bagaimana bapak bisa yakin itu Hafidzah? Kondisinya sudah tidak utuh lagi. Mayat itu bisa jadi siapa saja!”
“Kami belum sepenuhnya yakin. Namun, ciri-ciri fisik dan pakaiannya persis dengan apa yang bapak gambarkan pada kami sebelum Hafidzah dinyatakan hilang. Bapak dan Ibu mungkin ingin melihat sendiri,” ujarnya sembari mengeluarkan sebuah foto dari sakunya.
Sesosok mayat anak-anak bertubuh gempal dengan posisi tengkurap dan tangan kakinya terikat.
Mayat itu mengenakan celana training berwarna biru dongker dan di dekatnya terdapat sepasang sandal berwarna hijau. Tubuh dan pakaian itu memang milik Hafidzah.
Itu memang pakaian yang Hafidzah gunakan sebelum pergi hari itu.
Lebih dari itu, aku tidak bisa lagi mengelak. Mayat itu memang Hafidzah. Sosok putriku yang telah membengkak dan hancur lebur bersamaan dengan hatiku yang rapuh.
Otakku masih berusaha mencari penyangkalan yang mustahil, namun nuraniku berkata yang sebaliknya. Itu putriku dan dia mati mengenaskan.
Dadaku sesak, napasku tersengal, air mataku turun tanpa kusadari. Amarah yang sedari tadi berusaha kutahan, keluar dengan cepat.
Kuteriakkan nama putriku sekuat tenaga, “Hafidzah!!!!”
Berulang-ulang kuteriakkan namanya, berteriak betapa tidak adilnya ini.
Betapa kejam dan tidak manusiawi bagi siapapun yang telah melakukannya pada putriku. Ya Allah, sungguh sakit. Sungguh berat cobaan yang engkau berikan padaku.
Entah apa yang merasukiku, tiba-tiba aku merasa sangat marah. Marah pada diriku sendiri, marah pada suamiku yang terus-menerus pasrah, marah pada para polisi, dan marah pada orang yang membunuh putriku.
Aku bangkit dari jatuhku —aku tidak ingat kapan aku jatuh— dan menatap geram kepada semua orang.
“Bang, jika kau tidak cuek sama Hafidzah, mungkin Hafidzah tidak perlu main keluar setiap hari! Jika para polisi lebih cepat, mungkin Hafidzah masih bisa selamat! Jika aku– aku tidak membiarkannya….” Tak sanggup menyelesaikan kata-kataku, kepalaku terasa berat dan seketika semua menjadi gelap. Dalam kegelapan, aku ingin melihat cahaya wajahmu.
Tawar-menawar
Malam yang kelam diselubungi sepoi-sepoi angin, suhu menjadi sangat rendah.
Tak ada satupun suara, tak ada sedikitpun kegiatan. Hanya kepalaku yang diliputi banyak suara dan roda gigi yang terus berputar.
Suara-suara penyesalan itu terus menghantuiku sejak mereka menemukan mayat putriku.
Aku tidak bisa menghapus penampilan mayat itu dari kepalaku. Terus dihantui olehnya setiap saat, merasa takut dan menyesal setiap itu terjadi.
Sejak awal, aku tahu menjadi seorang Ibu adalah tugas terberat, namun termulia yang pernah kulakukan.
Ditambah menjadi Ibu bagi tiga orang anak. Seorang anakku pergi lebih dulu dariku, direngut orang biadab yang sinting! Kenapa harus Hafidzah?
Dia hanya anak-anak, dia tidak tahu apa-apa, dia tidak perlu menanggung dosa kedua orang tuanya.
Apa motifnya? Apa salahnya? Kenapa bukan aku saja? Kenapa orang itu tidak membunuhku saja? Kenapa harus merengut nyawa tak bersalah?
Masih memakai mukenah, aku melakukan monolog dengan penciptaku.
Ya Allah, sekarang anak hamba hanya tinggal dua. Tolong jagalah mereka. Seorang anak yang kulahirkan dengan susah payah, anak yang Engkau titipkan pada hamba. Mereka merengutnya dari hamba. Jika Engkau kembalikan Hafidzah pada hamba, hamba akan lebih taat pada-Mu. Hamba akan selalu menunaikan sholat hamba. Hamba akan menjadi ibu yang lebih baik. Jika Engkau masih belum bersedia, maka hamba ikhlas bertukar tempat dengan Hafidzah. Merasakan rasa sakitnya, merasa penderitaannya, menjadi mayat di bawah pohon sawit. Ya Allah….
Bersambung
Cerpen ini adalah tribute dari saya untuk Hafidza. Ini murni imajinasi dan hasil pencarian saya tentang peristiwa Hafidza (mungkin tidak seluruh cerita benar).
Melalui karya ini, saya juga ingin mengucapkan duka sedalam-dalamnya kepada Ibu Hafidzah dan keluarganya. Saya berharap Hafidza juga mengetahui tulisan ini bahwa dia sangat dicintai, salam Sheila Fiorencia Caroline, siswi SMKN 1 Sungailiat.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.