Ketika Musim Telah Berganti Cerita

Oleh: Pak Mo

Di sekitar tahun 1973, ketika itu saya baru berusia 5 tahun. Saya kerap bertanya perihal apa saja yang terkait dengan berbagai persoalan yang ada di sekitar kepada bapak saya yang ketika masih menjabat sebagai Kepala Negeri di Belinyu. Ia terpilih sebagai Kepala Negeri melalui pemilihan secara langsung ketika itu pada tahun1969.

Adalah jabatan seorang camat pada masa itu sama halnya seperti sekarang ini, merupakan perwakilan bupati yang berada di kecamatan sehingga sosok seorang camat tidak dipilih secara langsung sebagaimana seorang Kepala Kenegerian.

Camat ditunjuk atau diangkat oleh Bupati Kepala Daerah. Sehingga kedudukan seorang camat memiliki wilayah di kecamatan tersebut. Tetapi di sisi lain ada wilayah-wilayah tertentu yang di bawah kewenangan kenegerian.

Nampaknya eksistensi kenegerian yang stratanya satu tingkat di bawah camat lebih cenderung untuk urusan-urusan masyarakat yang berkaitan dengan budaya dan adat istiadat setempat.

Suatu hari di tahun itu, saya diajak oleh bapak menuju hutan belantara Dusun Aik Abik dengan menggunakan sebuah truk yang ada lambang kunci timbul (yang biasa digunakan para montir) di sisi kiri dan kanan pada bagian depannya.

Kepala mobil terbuat dari plat besi yang kokoh dan tebal sehingga terlihat begitu kokoh dan gagah. Mobil tersebut didapat dari pemerintah untuk kebutuhan Pembangunan Masyarakat Desa (disingkat PMD). Dan mobil itu ketika mau dihidupkan harus menggunakan engkol dari depan kepala mobilnya.

Baca Juga  Rindu dan Semangkuk Bubur

Mobil terus melaju melewati Desa Gunung Muda dan setelah masuk kearah Parit 4 yang dominan bermukim warga Tionghoa, tidak lama kemudian masuklah ke dalam hutan lebat belantara Aik Abik.

Saya disambut dengan rimbunnya pepohonan kayu pelawan yang begitu besar dan tinggi yang tumbuh di kanan kiri. Sepanjang jalan masuk yang berlumpur dan di atas jalan lumpur tersebut dibentanglah kayu-kayu yang biasa dinamakan bidai. Bidai ini berfungsi agar mobil bisa melaju dan tidak terperosok ke dalam lumpur (nyalep) bahasa lokalnya.

Semakin dalam memasuki hutan semakin gelap suasana karena sinar matahari tidak satu titikpun bisa menembus cabang dan dedaunan pohon-pohon yang tumbuh seperti pohon nyato, pohon Seruk, pohon Meranti, pohon Medang, Medaru dan macam-macam yang lainnya.

Singkat kata, hampir semua jenis pepohonan besar tumbuh di hutan tersebut. Seketika saya terkesima melihat pohon nyato yang begitu besar dan gagah perkasa tumbuh menjulang tinggi, saya mencoba untuk memeluknya tetapi tidak sampai pelukan saya ke sisi sebelahnya karena begitu besarnya pohon tersebut.

Saya juga terkagum-kagum dengan suasana hutan yang ada dan sangat menakjubkan. Udara dingin dan lembab begitu pekat terasa sehingga harus menggunakan baju jaket. Warna kemerahan pohon kayu pelawan yang seolah sengaja ditanam rapi dan teratur menambah ketakjuban suasana hutan.

Baca Juga  Pj Bupati Bangka dan Wali Kota Pangkalpinang Dikabarkan Berganti

Dari cerita masyarakat Aik Abik pada masa itu bahwa bermacam jenis kulat (jamur) khas daerah Bangka seperti kulat pelawan, kulat hati, kulat kisik, kulat tiung dan lain sebagainya tumbuh dengan subur pada waktunya.

Wajar saja ketika peralihan dari  musim kemarau ke musim penghujan mulai dari Kampung Riding Panjang, Riau Silip hingga Pugul bergelantungan di pinggir – pinggir jalan depan rumah penduduk kulat-kulat dari hasil hutan tersebut dipanen dan dijual.

Sungguh luar biasa suasana yang terlihat di sepanjang kampong dan jika dikalkulasikan antara jumlah penduduk Kecamatan Belinyu ketika itu dengan jumlah jamur yang dapat dipanen dari hasil hutan, maka melebihi konsumsi masyarakat yang ada.

Selain itu berbagai jenis madu juga menghiasi depan rumah penduduk yang sudah dimasukkan ke dalam botol bekas minuman sirup yang mereka ambil dari habitat yang tersedia begitu luas di dalam  hutan yang masih begitu perawan dan alami.

Seiring dengan perjalanan waktu perambahan hutan untuk mendapatkan kayu mulai secara masif dilakukan guna memenuhi kebutuhan lokal maupun dibawa ke luar pulau Bangka seperti Jakarta dan Surabaya.

Baca Juga  Serial Drakula Zaman Now: Tolong Rahasiakan

Kayu-kayu itu dibawa melalui Pelabuhan Tanjung Gudang Belinyu yang merupakan salah satu pintu keluar masuk berbagai jenis komoditas mulai dari sembako sampai kepada material bangunan dan lain sebagainya dari dan ke Pulau Bangka.

Eksistensi hutan kian hari makin tergerus. Hasil hutan seperti berbagai jenis kulat yang ada lambat laun mulai berkurang.

Di masa selanjutnya ketika timah sudah ditetapkan bukan merupakan barang strategis oleh pemerintah, maka eksplorasi dan eksploitasi penambangan pun ikut meramaikan rusaknya ekosistem hutan yang ada dan tidak sedikit meninggalkan lobang-lobang besar yang menganga yang dinamakan orang Bangka dengan “kolong”. Sayangnya recovery lahan pasca penambangan tidak berjalan sesuai yang diharapkan.

Setelah itu mulai dari tahun 1991 ekspansi perkebunan sawit mulai memasuki babak babak baru di pulau Bangka. Untuk pertama kalinya bermula di desa Dendang Kecamatan Kelapa, Desa Kacung terus ke arah Desa Kundi.

Setelah itu secara besar besaran terus bertambah sesuai dengan pemberian konsesi lahan hingga hampir seluruh wilayah di Pulau Bangka mulai di tanam kelapa sawit termasuk di kawasan Aik Abik di Kecamatan Belinyu.

Baik oleh perusahaan besar perkebunan kelapa sawit, para pengusaha lokal yang berivestasi sampai akhirnya kepada kelompok masyarakat dan pribadi ikut pula meramaikan.