Banjir Terluas Sepanjang Sejarah Melanda 17 Kelurahan di Kota Pangkalpinang
Oleh: Dwi Rizka Zulkia, B.A., M.Sc.
Hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang yang mengguyur Kota Pangkal Pinang, pada Senin, 21 April 2025 selama kurang lebih 3 jam menyebabkan 17 kelurahan dari 7 kecamatan yang ada di Kota Pangkal Pinang terendam banjir.
Genangan air ini mengakibatkan beberapa dampak yang dirasakan langsung oleh warga seperti permukiman warga yang terendam banjir, aktivitas ekonomi di beberapa pusat perdagangan lumpuh serta akses jalan utama terganggu.
Genangan air setinggi rata-rata 30-50 cm melanda 17 kelurahan yang tersebar di seluruh kecamatan di Kota Pangkal Pinang. Adapun kelurahan yang terdampak meliputi Kelurahan Batin Tikal, Kelurahan Gedung Nasional, Kelurahan Kejaksaan, Kelurahan Opas Indah, Kelurahan Rawa Bangun, Kelurahan Parit Lalang, Kelurahan Bintang, Kelurahan Pintu Air, Kelurahan Melintang, Kelurahan Semabung Baru, Kelurahan Sriwijaya, Kelurahan Bukit Intan, Kelurahan Semabung Lama, Kelurahan Bukit Sari, Kelurahan Kacang Pedang, Kelurahan Tuatunu, dan Kelurahan Selindung Baru. Fakta ini menjadikan banjir kali ini menjadi banjir terluas yang pernah terjadi di Kota Pangkal Pinang.
Faktor Penyebab banjir
Banjir di Kota Pangkal Pinang kali ini disebabkan oleh curah hujan yang tinggi disertai banjir rob akibat air laut pasang. Genangan air juga meluas diakibatkan oleh topografi Kota Pangkal Pinang yang merupakan dataran rendah dari bagian sisi timur laut kota menuju pusat kota yang berbentuk cekungan.
Jenis tanah yang terdapat di Kota Pangkal Pinang didominasi oleh jenis Kandiudults yang termasuk ke dalam Ordo Ultisols. Jenis tanah seperti ini memiliki karakteristik tanah yang terlalu padat dengan total ruang pori rendah sehingga ketika adanya limpasan air dengan debit yang cukup tinggi, menyebabkan air sulit untuk menyerap ke dalam tanah.
Jumlah penduduk yang semakin meningkat diiringi oleh pembangunan rumah atau bangunan hunian yang masif mengakibatkan berkurangnya luasan daerah resapan air.
Kondisi ini diperparah oleh kondisi jaringan drainase atau sistem saluran air yang sudah melebihi kapasitas karena beban saluran air yang semakin bertambah, dimensi drainase yang kecil, serta pendangkalan lantai drainase karena sedimentasi sehingga hanya mampu menampung debit air dengan kapasitas rendah.
Dilihat dari kacamata pemerintahan, beberapa faktor yang menjadi tantangan dalam menangani permasalahan banjir yang sudah sejak lama melanda Kota Pangkalpinang seperti belum adanya aturan dan sanksi yang tegas dari pemerintah daerah terkait penanggulangan banji, belum adanya kerja sama antara pemerintah daerah yaitu Kota Pangkal Pinang, Kabupaten Bangka dan Bangka Tengah, Pemerintah Provinsi dan pemerintah pusat seperti BBWS Babel. Adanya keterbatasan anggaran dalam hal penanganan pembangunan, peningkatan, dan rehabilitasi saluran drainase juga menjadi faktor penghambat dalam upaya pengendalian banjir di Kota Pangkalpinang.
Strategi Penanganan Banjir dari Kacamata Planner
Ada 2 (dua) konsep yang bisa diterapkan dalam menangani permasalahan banjir yang terjadi di Kota Pangkal Pinang yaitu Water Sensitive Cities dan Smart Drainage System.
“Water Sensitive Cities”
Konsep Water Sensitive Cities muncul sebagai respons progresif terhadap persoalan banjir di wilayah urban. Gagasan ini menekankan bahwa air bukan musuh yang harus dilawan, melainkan elemen ekologis yang perlu diintegrasikan secara bijak dalam perencanaan kota.
