Oleh: Dr. Diana Anggraeni, M.Hum.

Setiap 21 April, bangsa Indonesia mengenang sosok R.A. Kartini sebagai simbol emansipasi, keberanian, dan perjuangan pendidikan. Namun di balik peringatan ini, muncul pertanyaan mendasar: apakah cita-cita Kartini tentang pendidikan benar-benar sudah terwujud?

Realitas hari ini berkata lain. Di tengah gempuran teknologi dan kemajuan zaman, kita justru menyaksikan kemunduran dalam hal paling dasar: literasi. Sebuah contoh miris datang dari Bali, di mana seorang siswa SMP ditemukan belum mampu membaca dengan lancar. Di usia belia yang seharusnya penuh potensi, anak ini tertinggal dari dunia yang terus bergerak cepat.

Kondisi ini dapat dianalisis melalui kacamata sosiolinguistik, yakni kajian yang melihat hubungan antara bahasa dan masyarakat. Basil Bernstein, seorang ahli sosiolinguistik asal Inggris, menjelaskan adanya perbedaan antara restricted code (kode terbatas) dan elaborated code (kode elaboratif).

Baca Juga  Langit untuk Perempuan Indonesia

Anak-anak dari lingkungan dengan akses terbatas pada pendidikan dan budaya literasi seringkali hanya menggunakan kode terbatas, yang membuat mereka kesulitan memahami bahasa akademik dan struktur sosial yang kompleks. Dalam konteks ini, ketidakmampuan membaca bukan hanya soal huruf, tetapi juga tentang akses terhadap kekuasaan dan kesempatan.

Sementara itu, Paulo Freire, tokoh pendidikan progresif asal Brasil, menyatakan bahwa “membaca dunia sama pentingnya dengan membaca kata”. Dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed, Freire menekankan bahwa literasi adalah alat pembebasan. Tanpa kemampuan membaca, seseorang kehilangan kendali atas kehidupannya—tak mampu memahami realitas apalagi mengubahnya.