Oleh: Dian Putri — Mahsiswi Universitas Bangka Belitung

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ekonominya sekarang masih bergantung pada industri pertambangan timah, namun data menunjukkan perlunya pergeseran menuju sumber pertumbuhan baru.

Pertumbuhan PDRB Bangka Belitung tahun 2024 hanya mencapai 0,77% (babel.bps.go.id), terendah di antara provinsi-provinsi Sumatera (ditjenbinaadwil.kemendagri.go.id). Penurunan ini terjadi seiring lesunya sektor pertambangan: misalnya Triwulan I-2024 lapangan usaha pertambangan dan penggalian kontraksi 10,09%.

Data BPS dan BI mencatat pelemahan produksi timah yang berlanjut, sehingga pertumbuhan ekonomi menjadi terhambat. Kondisi ini ditegaskan oleh Dirjen Kemendagri yang menyebut ketergantungan tinggi pada tambang timah sebagai titik lemah struktur ekonomi Bangka Belitung.

Jika tidak ada langkah diversifikasi, semakin sempitnya cadangan timah (diestimasikan habis dalam 25 tahun) mengancam masa depan ekonomi daerah.

Sementara itu, sektor alternatif mulai menunjukkan kinerja positif dan menjadi kontributor utama ekonomi. Dari sisi produksi, pertanian, kehutanan, dan perikanan telah menjadi motor pertumbuhan utama.

Triwulan I-2024 misalnya, lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 5,28% (yoy) (babel.antaranews.com) berbalik dari kontraksi pada periode sebelumnya didorong oleh peningkatan produksi hasil laut dan perkebunan.

Baca Juga  Revolusi Pembelajaran: Memahami Peran Manajemen Perubahan dalam Pendidikan di Bangka Belitung

Produksi perikanan di pelabuhan-pelabuhan utama meningkat drastis, dan komoditas perkebunan seperti kelapa sawit, lada, dan karet juga menunjukkan kenaikan produksi. Sejalan dengan itu, lapangan usaha pertanian mencatatkan pertumbuhan paling tinggi pada Triwulan II-2024 sebesar 4,04% (web-api.bps.go.id).

Dari sisi kontribusi sumber pertumbuhan, Pertanian, Kehutanan, Perikanan merupakan penyumbang terbesar (0,75 poin persentase) pada Triwulan II-2024.

Hal serupa tercermin pada kinerja tahunan 2024 di mana BPS mencatat sumber pertumbuhan terbesar berasal dari lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan. Data ini menegaskan bahwa pengembangan sektor pertanian dan perikanan secara nyata dapat menopang ekonomi Babel di tengah melemahnya tambang timah.

Potensi pertanian di Babel cukup besar karena tanah subur dan iklim tropis. Selain perkebunan besar di atas (kelapa sawit, lada, karet), pengembangan tanaman pangan dan hortikultura dapat diperluas.

Upaya peningkatan produktivitas, misalnya melalui penyediaan benih unggul, irigasi, dan mekanisasi, terbukti mampu meningkatkan produksi. Gerakan “SEMARAK Babel” (penanaman 2,5 juta pohon) dan “Hijau Biru Babelku” oleh Pemprov Babel telah memperlihatkan efek positif, terbukti menahan laju penurunan ekonomi dan menekan angka pengangguran.

Baca Juga  Pemprov Babel Kembali Salurkan 4.000 Paket Sembako di Bangka Tengah

Program serupa bisa dikembangkan untuk kebun rakyat: misalnya revitalisasi kebun lada dan karet, intensifikasi tanaman pangan, serta diversifikasi ke komoditas baru (hortikultura, buah tropis).

Nilai tambah petani dapat ditingkatkan melalui pengolahan hasil pertanian menjadi produk setengah jadi atau jadi misalnya minyak kelapa sawit diolah menjadi bahan baku industri, lada diproses menjadi lada bubuk siap pakai, dan sebagainya sehingga membuka lapangan kerja lokal dan memperbesar porsi pendapatan di daerah.

Sektor perikanan juga memegang peranan strategis sebagai provinsi kepulauan. Produksi hasil laut di Pelabuhan Perikanan Sungailiat pada 2024 mencapai lebih dari 3,5 juta kilogram (babel.antaranews.com), menunjukkan besarnya sumberdaya ikan di perairan Babel.

Kinerja kuat subkategori perikanan ini mendukung pertumbuhan lapangan usaha pertanian dan perikanan sepanjang 2024. Pengembangan perikanan budidaya (akuakultur), peningkatan armada nelayan, serta infrastruktur cold storage dan pengolahan ikan dapat lebih meningkatkan produksi dan diversifikasi produk perikanan (misalnya pengolahan fillet, abon, atau pangan olahan laut lainnya).

Baca Juga  Fenomena Imposter Syndrome

Dukungan kebijakan seperti asuransi perikanan, pembinaan nelayan, perbaikan pelabuhan, dan akses pembiayaan mikro untuk nelayan kecil perlu diprioritaskan agar potensi laut Babel yang melimpah dapat dioptimalkan, mendongkrak perekonomian desa pesisir.

Dalam ranah pariwisata, Bangka Belitung memiliki daya tarik alam dan budaya yang tinggi, seperti pantai eksotis (Belitung) dan wisata alam (Bangka).

Data BPS mendukung bahwa sektor ini berkembang pesat. Misalnya, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di Babel mencapai 34,79% pada Oktober 2024, dengan jumlah kunjungan tamu hotel berbintang sebanyak 42.443 orang.

Tren ini terlihat dalam infografis BPS Provinsi Babel di bawah ini yang menunjukkan besarnya potensi kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara (babel.bps.go.id).

Menariknya, peningkatan fasilitas transportasi dan event pariwisata turut mendongkrak kunjungan. Bank Indonesia mencatat penyediaan penerbangan tambahan (extra flight) pada masa libur Imlek dan pergantian tahun 2024-2025 diperkirakan mendorong sektor transportasi serta akomodasi/makanan minum di Babel.