Oleh: Rahmanda Phelia Xena — Mahasiswa Universitas Bangka Belitung

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) dikenal sebagai salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki potensi kekayaan alam yang melimpah.

Mulai dari tambang timah, hasil laut, hingga keindahan pariwisata, semuanya memberikan peluang besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, potensi saja tidak cukup.

Agar pertumbuhan ekonomi benar-benar dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat, diperlukan sistem pengelolaan keuangan yang profesional, transparan, dan akuntabel. Di sinilah akuntansi memainkan peran yang sangat vital.

Banyak yang masih menganggap akuntansi hanya sebatas pencatatan transaksi dan penyusunan laporan keuangan. Padahal, akuntansi memiliki peran yang jauh lebih besar: sebagai sistem pengendali internal, alat pengambilan keputusan, dan fondasi kepercayaan publik. Tanpa akuntansi, ekonomi akan berjalan tanpa arah dan rentan terhadap penyimpangan.

Baca Juga  Tren Pejabat Eselon Babel Mundur: Analisis dan Implikasi

Di Bangka Belitung, pertumbuhan ekonomi menunjukkan tren positif. Menurut data BPS Babel tahun 2023, pertumbuhan ekonomi daerah mencapai 4,51%, naik dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 3,98%.

Sektor utama penyumbang PDRB adalah pertambangan, industri pengolahan, dan perdagangan. Namun, pertumbuhan ini belum sepenuhnya didukung oleh tata kelola keuangan yang memadai di tingkat mikro, terutama di kalangan pelaku UMKM dan pengelolaan dana desa.

Berdasarkan data dari Dinas Koperasi dan UMKM Babel, sekitar 60% pelaku UMKM di provinsi ini belum memiliki sistem pembukuan yang teratur. Banyak dari mereka yang masih mencampuradukkan keuangan pribadi dengan usaha, tidak mengetahui besaran laba yang diperoleh, dan kesulitan membuat laporan keuangan sederhana. Akibatnya, mereka juga kesulitan mengakses permodalan dari bank maupun lembaga keuangan formal.

Baca Juga  Jangan Cemari Laut Bangka Selatan dengan Sampahmu