Bagian 1 dari seri Langit Menyambutnya, Dunia Belajar darinya

Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Pondok Pesantren Qur’an CAHAYA

Mari bayangkan sejenak, sebuah padang pasir yang tandus. Tak ada sungai besar. Tak ada istana megah. Tak ada universitas seperti di Yunani atau Persia. Tapi di sanalah, di sebuah lembah nan sunyi bernama Mekkah, Allah memilih untuk mengutus Rasul terakhir-Nya. Di tengah keringnya gurun, justru muncul cahaya yang menerangi dunia.

Jazirah Arab saat itu bukanlah pusat peradaban dunia. Jika kita buka peta sejarah, ada tiga kekuatan besar yang menguasai dunia: Romawi di Barat, Persia di Timur, dan India dengan kerajaaan, warisan budaya dan berbagai atribut keunggulan lainnya. Sementara itu, Arab berada di tengah-tengah, tapi nyaris tak diperhitungkan. Mereka tidak punya struktur pemerintahan yang kokoh, tak punya ilmu pengetahuan yang tertulis, apalagi kekuatan militer yang menonjol. Bahkan, secara tempat tinggal pun mereka banyak yang nomaden dan berpindah.

Baca Juga  Presiden Jokowi Teken Keppres Biaya Haji 2024, Segini Besarannya

Namun, justru di tempat yang tampaknya “tidak menjanjikan” inilah, risalah langit diturunkan. Ini bukan kebetulan. Ini adalah pilihan Tuhan.

Mengapa Arab? Mengapa Mekkah?

Para Ulama kemudian mengkaji kenapa Mekkah yang menjadi pilihan Allah SWT untuk menjadi titik awal peradaban agung ini bermula. Alasan pertama, secara geografis, Jazirah Arab terletak di titik temu tiga benua: Asia, Afrika, dan Eropa. Meskipun bukan negara adidaya, lokasinya sangat strategis untuk menyebarkan risalah ke seluruh penjuru dunia.

Alasan yang kedua, Mekkah memiliki nilai spiritual tinggi sejak zaman Nabi Ibrahim AS. Ka’bah sudah menjadi tempat ziarah dan pusat tauhid sejak lama, meskipun saat itu telah dicemari dengan praktik jahiliyah dan penyembahan berhala. Allah ingin memurnikan kembali pusat tauhid dari tempat yang sudah dikenal masyarakat luas.

Baca Juga  Jemaah Haji Indonesia Diberangkatkan ke Arab Saudi Mulai 12 Mei 2024

Alasan selanjutnya adalah kondisi masyarakat Arab saat itu secara sosial sangat siap untuk menerima risalah. Meski hidup dalam kejahiliyahan—yang sering kita artikan sebagai kebodohan—mereka memiliki sejumlah karakter kuat: hafalan yang luar biasa, tradisi lisan yang kuat, keberanian, kemandirian, dan penghormatan tinggi terhadap kehormatan dan janji.

Namun sayangnya, potensi ini tersembunyi di balik gelapnya praktik kehidupan: mabuk-mabukan, perang antarsuku, praktik perbudakan, diskriminasi terhadap perempuan, bahkan membunuh anak perempuan hidup-hidup. Dalam kacamata kemanusiaan dan pendidikan, ini adalah krisis karakter besar.

Di Balik Kegelapan, Tersimpan Cahaya