Langit Menyambutnya, Dunia Belajar darinya (Bagian 2)

Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Pondok Pesantren Qur’an CAHAYA

Tahun itu dikenal sebagai Tahun Gajah. Di tahun itulah, sebuah peristiwa besar terjadi. Sekelompok pasukan bergajah dipimpin oleh seorang penguasa Yaman bernama Abrahah datang untuk menghancurkan Ka’bah.

Mereka datang dengan keyakinan bahwa kekuatan fisik dan militer mampu merobohkan simbol tauhid yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Ismail AS. Namun, sejarah mencatat bahwa kekuatan langit-lah yang menjaga rumah suci itu.

Kisah Pasukan Gajah: Intervensi Ilahi

Alkisah, Abrahah sang oenguasa Yaman merasa iri oleh Ka’bah karena banyaknya orang yang datang berhaji ke sana. Ia ingin mengganti pusat spiritual itu dengan gereja megah yang ia bangun di Sana’a.

Baca Juga  Membaca Ulang Kisah Nabi Yusuf (Bagian 8): Ketika Hasad Berubah Jadi Rencana

berangkatlah Ia bersama pasukan besarnya untuk meluluh lantakkan Ka’bah. Tapi rencananya berujung pada kehinaan. Allah mengirim burung-burung Ababil yang melempar batu dari sijjil—batu panas yang menghancurkan mereka satu per satu.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?” QS Al-Fiil: 1

Peristiwa ini bukan hanya tentang penyelamatan Ka’bah, tapi sebuah pertanda. Langit sedang bersiap menyambut kelahiran manusia agung yang kelak akan mengubah wajah dunia. Tak lama setelah pasukan gajah binasa, lahirlah Muhammad bin Abdullah.

Seorang anak yatim, lahir dari rahim Aminah dan tidak sempat melihat ayahnya. Namun, sejak lahir, tanda-tanda kenabian sudah tampak. Cahaya terpancar dari rumah tempat ia dilahirkan. Aminah mengaku melihat cahaya keluar darinya hingga menerangi istana-istana di Syam.

Baca Juga  Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 17): Memilih Penjara demi Menjaga Islam

Ka’bah yang selamat dari kehancuran kini menjadi saksi kehadiran manusia terpilih. Di tengah masyarakat jahiliyah, bayi ini akan tumbuh dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.