Oleh: Pak Mo

Ujung utara Pulau Bangka membentang sebuah teluk yang dinamakan Teluk Kelabat. Teluk yang menghadap lurus penjuru mata angin utara ini telah mengukir sejarah yang sulit untuk dilupakan dalam ingatan masyarakat penduduk pulau sebagai salah satu daerah penghasil timah putih dan ladah putih  terbesar di dunia.

Tanjung Gudang telah mencatat lembaran sejarah dalam perjalanan panjang kehidupan sosial ekonomi di Pulau Bangka. Lebih dari separuh kebutuhan hidup masyarakat Bangka seperti sembako yang didatangkan dari luar terutama Pulau Jawa berlabuh dan bongkar muatnya di Pelabuhan Tanjung Gudang Belinyu.

Tidak hanya itu saja, material dan bahan-bahan untuk kebutuhan bangunan seperti semen dan lain-lain juga dibongkar muat di sana.

Baca Juga  Satrio Piningit

Pulau Bangka yang ketika itu masih tercatat sebagai bagian dari wilayah administrasi Provinsi Sumatera Selatan, Tanjung Gudang merupakan salah satu titik penyumbang pergerakan perekonomian Pulau Bangka yang cukup besar, selain Pelabuhan Pangkal Balam.

Adalah seorang pengusaha Tiong Hoa, Sudradjat yang biasa di sapa A Djat, merupakan pengusaha yang sukses sebagai pemasok kebutuhan dasar seperti beras, gula terigu, tepung tapioka, minyak goreng dan barang-barang kebutuhan masyarakat lainnya.

Untuk menunjang arus masuk dan keluar barang yang datang dan keluar Pulau Bangka, A Djat membangun sarana bongkar muat bagi kapal-kapal miliknya yaitu pelabuhan sandar dari kayu yang kuat dan kokoh di Tanjung Gudang Belinyu.

Puluhan Kapal barang miliknya berlayar dan berlabuh di Pelabuhan Tanjung Gudang. Singkat cerita Pelabuhan Tanjung Gudang telah menjadi urat nadi perkonomian Pulau Bangka dan sangat strategis.

Baca Juga  Mimpi Buruk Afta

Kedalaman lautnya disaat surut terendah bisa mencapai 5 sampai tujuh 7 meter, sehingga tidak menjadi penghalang bagi kapal-kapan untuk merapat dan bongkar muat kapan pun.