Oleh: Rivansyah — Universitas Bangka Belitung

 Di tengah hadirnya tekanan ekonomi yang kerap dirasakan banyak masyarakat Indonesia yang dimulai dari naiknya harga bahan pokok, memburuknya daya beli hingga ancaman PHK, terdapat sebuah fenomena yang justru terasa paradoks.

Hal ini ditandai dengan ramainya berbagai kafe dan restoran maupun antrian panjang di gerai makanan yang viral. Di samping itu, kondisi lain juga ditandai dengan meningkatnya konsumsi gaya hidup hedonistik terutama di kalangan anak muda urban.

Hal ini tentunya menimbulkan sebuah pertanyaan apakah hal tersebut merupakan bentuk pelarian, atau sebenarnya kita sedang menyaksikan seperti apa gejala baru dari dinamika sosial ekonomi para generasi muda saat ini.

Baca Juga  Iman dan Ilmu

Fenomena ini menggambarkan apa yang disebut hedonisme dalam krisis. Hedonisme dalam krisis merupakan sebuah kondisi ketika konsumsi dijadikan pelarian dari realitas yang menekan. Di Indonesia, dengan tren ini paling kentara di kalangan generasi muda urban yang khususnya adalah generasi Z.

Mereka yang merupakan generasi muda khususnya generasi Z dalam hal ini tumbuh dalam ekosistem digital yang penuh dengan tekanan sosial. Dalam kehidupan mereka pada, validasi sosial menjadi suatu hal yang dianggap sangat penting.

Unggahan di media sosial tentang gaya hidup mewah, pencapaian karir, atau barang bermerek kerap menjadi tolak ukur kesuksesan. Sayangnya, semua itu seringkali dibangun di atas pondasi ekonomi yang rapuh seperti hutang konsumtif ataupun penggunaan layanan paylater yang tidak terkontrol.

Baca Juga  Mengenal Pantang Larang (6)

Menurut data dari Otoritas Jasa Keuangan, pada tahun 2025 pertumbuhan pinjaman konsumtif digital meningkat 15% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sebagian besar pengguna berasal dari usia 20 hingga 30 tahun.

Tingkat gagal bayar dalam hal ini juga ikut naik yang menandakan banyak anak muda terjebak dalam gaya hidup di luar batas kemampuan finansial mereka. Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah ekonomi tidak hanya terjadi dalam bentuk fisik, namun juga bentuk psikologis.

Banyak orang yang merasa masa depan terlalu tidak pasti untuk ditabung. Hal ini mengakibatkan konsumsi saat ini dianggap lebih penting dibandingkan dengan investasi jangka panjang.