Universitas Trisakti Gelar Diskusi Pangan Berkelanjutan di Swiss-Belhotel Pangkalpinang

PANGKALPINANG, TIMELINES.ID – Universitas Trisakti melalui tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dan peneliti multidisiplin mendukung diskusi panel Pangan Berkelanjutan bertema “Harmonisasi Ekosistem Perkebunan melalui Inovasi Tanaman Perkebunan untuk Mendukung Perawatan Kesehatan Gigi-Mulut dan Pembangunan Berkelanjutan”.

Para peneliti yang hadiri terdiri atas dosen Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan Institut Pariwisata Trisakti (Dr. Erny Tajib, S.E., M.M., drg. Monica Dewi Ranggaini, M.K.G., FICD, drg. Johni Halim, M.K.G., FICD, Dr. Sofian Lusa, S.E., M.Kom., CHRP., CBA, Hendra Gunawan, S.E., M.M., CHRMP , Dr. Ryan Corinus Dato Matheos, S.E., M.E.),

Acara ini digelar di Swiss-Belhotel Pangkalpinang dan dihadiri oleh pemangku kepentingan dari sektor pemerintah, akademik, industri, dan mahasiswa.

Baca Juga  Desa Kute Rayakan Maulid Nabi dengan Cukuran Massal, Mahasiswa KKN Lakukan Ini

“Provinsi ini dikenal luas karena kekayaan timah dan pariwisatanya, namun sesungguhnya menyimpan potensi unggulan lain yang sangat penting: Sektor Perkebunan. Banyak hasil perkebunan, seperti lada putih, memiliki keterkaitan erat dengan perawatan kesehatan gigi dan mulut, dan sangat potensial dikembangkan melalui pendekatan hilirisasi berbasis riset dan teknologi,” ujar ketua tim PKM multidiplin, Dr. Erny Tajib, S.E, M.M yang merupakan salah satu putra Bangka yang mengabdikan diri dalam dunia pendidikan.

“Dan kami tim dosen dari Universitas Trisakti berterima kasih kepada Bapak Ir. Hongky Listiyadhi, M.Ars., atas peran penting beliau dalam memfasilitasi tempat penyelenggaraan acara serta menjalin komunikasi yang efektif dengan para pemangku kepentingan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.”

Baca Juga  APKASINDO Babel Sebut Pemda Tidak Transparan Tentukan Batas Koordinat HTI

Diskusi ini merupakan langkah awal dari riset multi-tahun yang bertujuan mengembangkan strategi hilirisasi komoditas lokal seperti lada putih Bangka, yang kaya akan senyawa aktif dengan potensi sebagai bahan obat kumur antibakteri dan antiinflamasi alami.

Pendekatan ini diharapkan dapat berkontribusi langsung pada peningkatan kualitas kesehatan gigi-mulut masyarakat, sekaligus mendorong nilai tambah ekonomi bagi petani lokal.