Karya Dedy Irawan, Wartawan Timelines.id

 Matahari mulai terbangun dari tidurnya saban malam. Sinarnya yang tajam bak menembus kulit ari, menerobos masuk melalui jendela kayu rumah Boro.

Ia terjaga dari mimpinya. Boro mengusap kedua matanya namun masih terbaring di kasur tipis kamar tidur yang sempit.

Ia berusaha mengingat mimpi yang dialaminya. Ya, mimpi di subuh hari. Di kala tetangganya mulai menapakkan kaki menuju masjid, pria muda ini masih terbuai mimpi.

Pertemuan bersama teman-temannya tadi malam membuat Boro begadang hingga dini hari. Di desanya akan digelar perhelatan pesta demokrasi.

Orang desa ada yang menyebut pemilihan raja kampung atau raja kecil.

Dan Boro yang baru tiga tahun lulus kuliah ini, mencoba mempertaruhkan hidupnya dalam agenda enam tahunan itu.

Ia tak tahan bekerja serabutan seperti saat ini. Boro nekat mengikuti pemilihan kepala desa untuk memperbaiki hidupnya.

***

Di pertemuan itu, Hanpo, sahabat Boro tiba-tiba menyeloroh, “Tak punya Rp 100 Juta, Jangan coba-coba maju jadi Kades. Kalah kamu Ro.”

“Akkkhhh….Dari mana aku dapat uang sebesar itu,” tanya Boro sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

“Semua kompetisi butuh modal. Begitu juga dengan pemilihan kepala desa. Di desa kita bakal ada 4 calon raja kampung termasuk kamu nantinya,” jelas Hanpo.

“Jadi, apa yang harus aku lakukan Po, waktu kita tinggal sebulan. jumlah suara di desa kita sekitar dua ribu lebih suara. Jadi aku harus mendapatkan minimal seribu suara agar bisa jadi kades. Bantu aku Po. Apapun yang terjadi aku harus jadi raja kampung,” ujar Boro memelas.

Baca Juga  Ibu dan Sapu Lidi

“Giiilaaa kamu Ro, bagaimana caranya. Kamu orang baru di dunia politik. Baru tiga tahun selesai kuliah. Jalanmu masih panjang, masih banyak peluang pekerjaan,” nasihat Hanpo.

“Tidaaak… Aku harus jadi kades, bagaimanapun caranya. Kamu ikut aku. Kita rumah Bos Perok. Ini solusi terakhir,” jawab Boro terkekeh.

Boro akhirnya memutuskan untuk meminjam uang ke Bos Perok, salah satu pengusaha abu-abu di wilayah tersebut. Boro berpikir jika tak dicoba maka tak akan berhasil.

Berbekal sepeda motor butut Boro, mereka bergegas menemui Bos Perok yang tinggal di ujung desa.

***

Pria berbadan gempal sambil menghisap rokok duduk di teras rumahnya. Berbaju kaos putih tipis dibalut kain sarung hitam, pria ini sesekali menyeruput kopi.

Rupanya inilah Bos Perok, pengusaha terkaya di desa ini.

Ia memiliki berbagai usaha, mulai usaha pertanian, perkebunan, perikanan hingga pertambangan digelutinya baik legal maupun ilegal.

“Kamu sanggup mengembalikan berapa lama kalau saya pinjamkan Rp 150 juta dan apa jaminannya,” tanya Bos Perok tersenyum dengan tatapan tajam. Gigi emasnya terlihat begitu menyilaukan.

Boro menoleh ke arah Hanpo. Tatapannya nanar kebingungan. Bagaimana mungkin Boro bisa mengembalikan uang sebesar itu.

Baca Juga  Hutan Angker (Tamat)

Pekerjaan sehari-harinya adalah seorang kuli bangunan. Itupun hanya seorang pembantu tukangnya yang gajinya Rp 80 ribu per hari.

“Ee…ee.. tiga bulan setelah saya terpilih jadi Kades, Bos. Sekarang bulan Desember jadi perkiraaan bulan April, Bos,” tegas Baro.

“Hmm…kamu harus mengembalikan uang pinjaman Rp 150 juta dengan bunga Rp300 juta. itu kesepakatannya. Dan mana jaminan sertifikat tanah atau rumah sebesar minimal Rp150 juta, baru aku pinjamkan uang Rp150 juta,” jawab Bos Perok.

Hanpo yang menoleh ke arah Boro seolah ingin mengingatkan Boro agar berpikir seribu kali.

“Bayar utangnya dua kali lipat. Iya kalau kamu menang Pilkades, nah kalau kalah,” bisik Hanpo ke telinga Boro.

“Kita harus mencoba Po, kalau tidak dicoba kita tidak tahu perperangan ini,” tegas Boro.

“Ini jaminannya Bos Perok, dua sertifikat tanah milik ibu saya, nilainya hampir Rp200 juta. Orang tua saya sudah mengetahui ini,” sebut Boro mengelabui Bos Perok. Padahal dua sertifikat tersebut sejak tiga hari lalu dicuri Boro di dalam lemari kamar ibunya.

Dan itulah satu-satunya simpanan kedua orang tuanya. Harta warisan untuk tujuh orang keluarga ibu Boro. Neneknya menitipkan dua sertifikat itu. Nantinya setelah sertifikat dijual, uangnya untuk dibagikan kepada mereka bertujuh.

Baca Juga  Bunga Perpisahan

“Oke, kita deal. Sertifikat saya terima. Ini uang Rp150 juta. Jatuh tempo tiga bulan dengan bunga Rp150 juta. Total Rp300 juta harus kamu kembalikan pada bulan April. Dan jika tidak ditepati maka dua sertifikat ini jadi milik saya,” tegas Bos Perok, kembali ia memperlihatkan gigi emasnya.

“Oke bos,” jawab Boro dan Hanpo hampir serentak.

***

Pemilihan kepala desa tinggal satu bulan lagi. Ada empat calon kades termasuk Boro.

Dan saat ini sudah memasuki masa kampanye. Keempat calon berusaha mencari perhatian warga agar dapat memilihnya.

Boro harus mampu mendapatkan minimal seribu suara agar mimpinya menjadi kades terwujud.

“Hanpo, segera kumpulkan orang-orang kita. Buatkan tim sukses. Kamu jadi ketua timnya. Tugas kalian membagikan uang tadi Rp100 ribu per orang. Jangan lupa buatkan selebaran dengan fotoku. Tuliskan Dengan Boro Desa Seribu Janji ini akan Segera Maju. Awas tim kita jangan ketahuan panitia desa pada saat membagi-bagikan uangnya,” kata Boro menjelaskan.

“Ro, aku masih ragu dengan cara seperti ini. Sebenarnya banyak cara untuk mendapatkan hati rakyat, tanpa harus dibayar mereka akan memilih mu Ro. Tunjukkan jati dirimu sebagai seorang berjiwa sosial. Bantu warga kita yang membutuhkan. Mereka yang sakit, kekurangan secara ekonomi. Dorong agar pemerintah desa memperhatikan. Dengan cara-cara ini, suaramu akan terdongkrak,” jelas Hanpo.