“Aahhh, tak usah banyak menasihati. Turuti saja perintahku. Segera buat tim sukses. Bagikan uang Rp100 juta tadi ke seribu warga. Sisa Rp50 juta untuk operasional kita. Jangan lupa KTP atau identitasnya kita ambil. Jadi kita tahu jumlah real pemilih kita,” kata Boro meninggi.

***

Memasuki masa kampanye, Hanpo bersama puluhan timsesnya segera menyusun rencana untuk membagikan uang tersebut.

Mereka telah mengatur strategi membagikan uang pada waktu malam hingga subuh.

Aksi ini mereka lakukan untuk menghindari temuan panitia Pilkades. Karena jika tertangkap, maka secara otomatis pencalonan Boro dibatalkan. Bukan itu saja, Boro dan timsesnya terancam pidana pidana penjara.

Di lokasi kampanye tampak baleho Boro dan tiga calon raja kampung tersebar di beberapa titik.

Bahkan spanduk kampanye Boro pun terlihat di beberapa RT dan RW.

Para calon dengan visi misinya merayu warga agar memilih mereka. “Dengan Boro, Negeri Seribu Janji Ini akan Segera Maju” salah satu tagline Boro.

“Pilih saya, karena dengan Boro, Negeri Seribu Janji ini segera berkembang dan maju,” teriak Boro dihadapan ratusan warga saat kampanye.

Baca Juga  Jasa Empat Lima

“Hiiduuupp Boro,” lanjut Hanpo dengan pengeras suara.

***

Malam itu kian pekat. Alunan suara jangkrik bersautan.

Hari ini adalah hari terakhir masa tenang. Besok adalah penentuan apakah Boro benar-benar terpilih jadi raja kampung.

“Kita harus hati-hati karena kalau ketahuan. Pencalonan bisa dibatalkan dan kita bisa masuk penjara,” Boro kembali mengingatkan Hanpo dan timnya malam itu di sebuah ruang kecil yang selalu digunakan sebagai base camp pencalonan Boro.

“Iya kawan-kawan, survei kita tadi siang, Boro masih meraih suara tertinggi disusul Pak Katrok. Tapi jarak suaranya tidak terlalu jauh. Pak Katrok masih berpotensi menang. Sekarang pukul 12 malam. Dua jam lagi kita bergerak. Tugas kita mengetuk pintu rumah warga dan meletakkan uang Rp100 ribu serta foto Boro,” jelas Hanpo.

Puluhan tim sukses Boro dibawah komando Hanpo bergerak senyap menuju rumah-rumah warga. Mereka menyelipkan uang Rp100 ribu dengan selebaran ajakan memilih Boro sebagai kades di bawah pintu rumah warga.

Aksi serangan fajar berjalan hingga pukul 04.00 WIB.

Tak sadar Adzan subuh memanggil, sepandai pandai tupai melompat pasti akan jatuh juga. Naas, salah satu anggota tim sukses Boro tertangkap warga saat akan berangkat Salat Subuh ke masjid.

Baca Juga  Hukum Qoulomb, Gaya Interaksi Dua Muatan Listrik Statis, Ini Rumusnya

Warga curiga melihat orang menyisipkan lembaran ke beberapa rumah. Mereka lalu melaporkan ke panitia pencalon kades.

Tim panitia bersama kepolisian akhirnya berhasil menangkap tangan anggota Boro dan Hanpo.

Bahkan panitia pun berhasil mendapatkan barang bukti uang jutaan rupiah serta selebaran yang dibagikan.

Saat diintrogasi, anggota timses tadi mengaku uang tersebut milik Boro untuk dibagikan kepada warga agar memilihnya jadi kades.

Kesaksian warga menambah alat bukti yang menggiring Boro dan Hanpo ke persidangan.

Desa Seribu Janji Manis heboh. Kejadian politik uang viral dan menyebar ke seluruh pelosok desa.

Miris, pencalonan Boro akhirnya resmi dibatalkan. Bahkan dirinya bersama Hanpo saat ini sedang menjalani persidangan kasus money politic.

 “Sebenarnya kita sudah hampir menang Po. Aahhh.. seperti ini jadinya. Hancur Hidupku Po,” sesal Boro meneteskan air matanya.

“Dari awal aku sudah mengingatkan Ro. Banyak cara tanpa mengeluarkan uang untuk merayu hati rakyat. Tetapi kamu memaksa, akhirnya seperti ini,” keluh Hanpo.

Baca Juga  Tapi, Ini Bukan tentang Langit

Di sudut ruang sidang, seorang ibu menatap dari kejauhan.

Ia terus menangis, memikirkan nasib anak pertamanya. Ia pun tak menyangka, Boro akan senekat ini mencuri dua sertifikat keluarga untuk digadaikan.

Nasi sudah jadi bubur. Boro dan Hanpo harus bertanggung jawab atas perbuatannya.

Keduanya digiring ke mobil tahanan usai mendengarkan vonis 2 tahun penjara oleh majelis hakim.

“Ibuuu..maafkan aku,” ujar Boro lirih. Terlihat tetesan air matanya mengalir.

“Kuatkan dirimu Nak,” jawab sang ibu tak henti-hentinya menangis sedih.

Boro menunduk meninggalkan ibunya menuju mobil tahanan.

***

“Borooo..Borooo.. dari pagi tadi tidur melulu. Subuh sudah terlewat. Ini Dzuhur juga hampir terlewati. Mau jadi apa kamu Nak? Mau makan lewat mimpi,” teriak ibunya seraya mengoyang-goyangkan tubuh Boro.

“Cepat bangun, sholat Dzuhur. Kamu ini masih muda Ro, baru selesai kuliah. Harus semangat mencari pekerjaan. Atau itu ada lowongan, sebentar lagi ada pemilih calon kepala desa, mungkin kamu tertarik ikut,” tanya ibunya terkekeh.

“Haaa!” Boro terdiam seribu bahasa.

Tamat