Karya: Faturrachman

Toboali tampak cerah seperti biasanya. Burung-burung masih berkicau merdu, dedaunan pohon bergoyang lembut ditiup hembusan angin, kendaraan pun hilir mudik memenuhi jalanan sempit yang menjadi kebanggaan kami dari dulu, Jalan Jenderal Sudirman.

Keren sekali bukan? Seorang panglima militer yang gagah berani dan masih tetap berjuang membela negeri ini meski ajal hampir berpisah dari jiwa.

Meski berkali-kali malaikat Izrail tampak dekat di pelupuk mata, tapi ia, Jenderal Sudirman yang sebenarnya masih orang keraton, rela turun membela rakyat, menentang penjajah yang tanpa belas kasih menguras isi bumi, mengeksploitasi tenaga nenek moyang kita. Mereka bak benalu di batang rambutan. Licin dan hanya bisa menghisap batang tanpa memberikan kontribusi bagi yang memiliki.

Tak aneh bila orang seperti Jenderal Sudirman ini sangat dihormati. Sampai-sampai diabadikan sebagai nama jalan raya. Tak sembarang orang bisa diberi kehormatan seperti itu. Hal itu hanyalah mimpi bagi orang-orang pemalas sepertiku. Jangan kan untuk berjuang bagi negara, berjuang untuk nilai ulangan saja aku sangat kesulitan.

Perkenalkan, namaku Joy, 16 tahun. Pemuda ganteng nan rupawan. Anda percaya kan?

Kalau anda percaya, segera sediakan uang untuk memeriksa bola mata anda apakah minus atau menderita penyakit mata macam katarak.

Di sekolah aku sering diejek teman-teman karena memiliki rupa dan bentuk wajah yang berbeda dari mereka. Ini disebabkan oleh hidungku yang melanggar aturan alam. Ketika semua orang memiliki hidung yang tumbuh ke depan, aku malah sebaliknya. Tumbuh ke belakang atau dalam bahasa kasarnya: pesek.

Pesek. Aku benci kata itu. Kedua lubang telingaku sudah dipenuhi kata-kata itu dari dulu. Baru lahir, aku sudah mirip Voldemort, musuh Harry Potter yang tak punya hidung.

Baca Juga  Klandestin

Ketika kelas 4 SD, aku kesulitan menggerakkan lubang hidungku. Diameter yang kecil membuatku lelah mencoba mengendalikannya. Perihal menggerakkan lubang hidung pun aku susah, apalagi menggerakkan senjata seperti Pak Jenderal.

Aku tak punya nyali. Seandainya hidung dapat dialihfungsikan sebagai pistol, aku yakin pistolku yang mengarah ke bawah akan melubangi kedua kaki lentik ini.

Setiap bercermin, aku menangis melihat sosok yang aku lihat di depanku. Kucoba menyentuh hidungnya, sekadar memastikan seperti apa bentuknya, ia malah menyentuh jariku.

Astaga, kenapa ia menepis sentuhan tangan halusku? Kucaci maki dia, dia balik menghina diriku. Semenjak itu, selain kata pesek, aku benci cermin. Ia terlalu jujur untuk sebuah benda mati.

Untunglah, bentuk hidungku yang tak aerodinamis ini tidak mengganggu proses pernapasanku. Aku masih bisa menghirup udara sebanyak apapun yang aku mau. Hiruup, hembuskan. Masih berfungsi baik. Pun indra penciuman, masih sangat bagus.

Aku masih bisa membedakan mana bau ketek dan mana bau kentut. Bahkan aku berani berlomba melawan anjing pelacak polisi dalam hal bau-membau. Aku yakin kalau aku bisa mengalahkan hewan itu, bisa-bisa aku menjadi asisten polisi selama beberapa dekade dan menjadi Helder kesayangan mereka.

Akan tetapi, masyarakat yang ada di tempatku tak mengindahkan kelebihan-kelebihan hidungku. Mereka hanya menilai berdasarkan apa yang mereka lihat sekilas tanpa memperhatikan hidung mungil ini secara mendetail.

“Eh, bu Atik, anaknya baru masuk SMA ya?”

“Iya Bu Kelin. Sekelas sama Si Joy.”

“Joy yang mana? Oh, si Pesek ya? Hehehe.”

“Ah ibu, bisa aja deh. Hehehe..”

Baca Juga  Pengantar Minum Racun

Itulah tadi salah satu dari sekian banyak dialog yang menyinggung hidungku. Mulai dari ibu-ibu, kakek-kakek, anak-anak kecil, sampai anak-anak kecil semua mencapku pesek.

Oke, aku akui aku pesek. Tapi bisakah mereka berhenti memanggilku pesek? Atau haruskah aku mengendalikan permasalahan sosial ini dengan mengambil mic TOA masjid dan mengumandangkannya ke seluruh kampung?

Ketika Ariel terkenal dengan muka ganteng dan Tegar dengan cita-citanya menjadi orang kaya, maka aku terkenal karena pesek. Semua penduduk kampung tahu hal ini. Sudah menjadi semacam rahasia umum.

Begitu susah menjadi orang pesek. Bagaimana dengan mereka yang berhidung mancung? Pernahkah mereka disindir memiliki hidung yang mancung? Aku yakin, bentuk hidung tersebut akan mengubah mereka menjadi beberapa derajat lebih rupawan di mata orang yang melihat. Pengecualian bagi Petruk dan Pinokio.

Kemarin, aku mengayuh sepeda menuju warnet mencari berbagai obat pemancung hidung. Banyak sekali brand dan merek obat yang mengklaim bisa menambah ukuran hidung. Kadang dari cara pemakaian saja sudah mencurigakan.

Bagaimana bisa dengan mengoleskan salep dapat memancungkan hidung. Mustahil. Selama ini aku jarang berpikir rasional, cenderung berimajinasi dan berkhayal tentang suatu barang. Akan tetapi untuk proses colek langsung mancung, tanpa berpikir pun aku tahu kalau itu tak mungkin terjadi.

Sore itu, aku berangkat ke pantai. Sejenak mencari pemandangan penyejuk mata. Jangan kau kira aku berniat melihat cewek-cewek centil yang nongkrong di pantai. Aku hanya ingin melihat pemandangan matahari terbenam.

Bagiku saat-saat seperti itu sangat menggetarkan hati. Mengingatkan kita tentang apa yang telah kita lakukan seharian ini. Seberapa banyak amal yang kita lakukan. Jadi tak salah jika Abu Nawas sampai mengucapkan kata-kata tobat kala melihat tenggelamnya mentari.

Baca Juga  Penyemangat Hidup

Kau tahu teman, dengan bersantai sejenak di pantai, kita dapat memetik banyak hal yang bagus untuk dijadikan refleksi hidup. Batu karang yang setiap saat diterpa debur ombak masih kokoh menancap di pasir.

Tak tergeserkan oleh siapapun. Tak pernah terkikis oleh abrasi air laut dan tiupan angin. Malah batu karang cenderung menjadi lebih tebal karena dihinggapi kulit karbonat kerang yang keras dan tajam.

Seperti itulah harusnya hidup. Tak hancur dilanda berbagai macam cobaan yang Tuhan uji kepada kita sebagai hambanya. Ingat, itu hanyalah cobaan. Apabila kita melewatinya, kita akan gagal.

Tetapi jika kita berhasil melewatinya, kita akan mendapatkan derajat yang mulia di hadapan-Nya. Selama yang kita lakukan itu benar, lakukanlah. Jangan hiraukan cemoohan orang. Mereka hanyalah air di atas daun talas.

Kulihat di ufuk barat, matahari mulai menampakkan sinar jingga mega. Begitu indah suasana seperti ini. Dan secara refleks, aku berdoa seraya memegang hidung.

Kubuka kedua mataku setelah tertidur pulas semalaman dan segera kulihat jam di hp ku. Astaga! Jam setengah tujuh! 30 menit lagi gerbang sekolah akan tutup dan aku tak mau tertahan di situ menunggu guru piket membukanya kembali.

Sikat gigi dan hanya mencuci muka. Tak mandi karena terburu-buru. Untunglah, pakaian sekolah telah aku siapkan semalam sehingga dapat langsung aku kenakan. Makan seadanya dan bergegas ke bagasi rumah.

“Hati-hati di jalan, Nak!” teriak ibuku dari dapur.

“Iya ibuku!” sahutku seraya menaiki sepeda pixy lalu berangkat ke sekolah.