Ia, antara Ada dan Tiada
Oleh: Aqila Aliya Chandra
Ada cahaya yang tak dijelaskan langit dalam sorot mata
Gerak lirih seolah semesta belajar diam
Senyum terbit seperti luka yang memilih jadi cahaya
Dan saat itu, indah tinggal sebagai bisu yang paling lantang
Kadang fajar pun enggan menyingkap cahaya
Saat bayangnya menari dalam kepala
Waktu seperti lupa caranya berjalan
Kala bisunya berbicara lebih nyaring dari seribu sajak
Halaman
