Kami yang di Pinggir
Karya: Yan Megawandi
Entah sejak kapan
aku mulai percaya pada takdir
bukan karena pasrah
tapi terlalu sering ditinggalkan
oleh nasib yang berjalan terburu-buru
melewati jalan-jalan desa kami
lorong-lorong kota kami
atau di atas banjir yang menggenangi
tanpa pernah singgah betul
Menjelang Pilkada ulang
kata-kata kembali hidup dari spanduk dan baliho
senyum kembali ditabur seperti pupuk
jalan rusak ditambal seadanya
lampu jalan menyala seperti sadar tiba-tiba
dan kami ini mulai diingat kembali
seakan selama ini tidak pernah ada
Lima tahun sekali kami dimuliakan
duduk di barisan depan
disalami dengan tangan penuh janji
dipanggil “yang mulia rakyat”
ditepuktangani seperti pahlawan demokrasi
disanjung dalam puisi yang ditulis buru-buru
oleh tim sukses tanpa rasa
