Merak Hijau-Jawa: Keindahan yang Terancam Punah

Oleh: Eka Sulistia Wati – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

Sebagai negara megabiodiversitas, Indonesia menyimpan banyak spesies endemik yang terancam punah. Indonesia yang terkenal sebagai tempat dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, menyimpan keajaiban alam yang luar biasa, yaitu  Merak Hijau-Jawa (Pavo muticus-muticus).

Ekor jantan yang berkilau seperti kipas dari zamrud telah mencuri perhatian banyak orang, dari ilmuwan hingga seniman. Namun, di balik pesonanya, terdapat kenyataan yang menyedihkan, makhluk megah ini sedang menghadapi kesulitan untuk bertahan hidup karena kehilangan habitat dan perburuan liar yang masih terjadi.

Merak Hijau-Jawa termasuk dalam kelompok vertebrata di kelas Aves dan merupakan bagian dari keluarga Phasianidae. Dulu, hewan ini tersebar hampir di seluruh kawasan Asia Tenggara, tetapi kini hanya dapat ditemukan di beberapa lokasi di Jawa Timur, seperti Taman Nasional Baluran dan Alas Purwo.

Baca Juga  Anggaran Harap Maklum

Satwa ini telah dimasukkan dalam kategori endangered (EN) oleh IUCN dan terdaftar dalam Appendix II CITES, yang menunjukkan bahwa perdagangan internasionalnya perlu diawasi dengan ketat.

Sayangnya, keindahan yang dimiliki oleh merak hijau menjadi kutukan bagi mereka. Pesona yang dimiliki seringkali mendatangkan bencana. Dalam kasus merak hijau, ekornya yang mencolok justru menjadi alasan utama perburuan.

Bulu-bulu ini digunakan sebagai dekorasi, suvenir, atau bahkan barang dianggap sakral, meskipun hewan ini memiliki perlindungan hukum. Selain itu, hilangnya habitat karena perubahan fungsi hutan menjadi lahan pertanian, pertambangan, dan pemukiman semakin mempercepat penurunan jumlah merak hijau.

Ketika alam tak lagi aman bagi merak hijau. Di tengah berbagai ancaman tersebut, dilakukan beragam upaya konservasi, selain di Jawa ada penangkaran di wilayah lain, sebuah penangkaran tertutup. Lokasi penangkaran ini dirahasiakan untuk melindungi kedamaian lingkungan dan menghindari stres yang dapat dialami merak akibat keterlibatan manusia.

Baca Juga  Prestasi Baik Kontingen Karate Bangka Selatan di Kejuaraan FORKI Bangka Belitung

Stres dapat berpengaruh pada pola makan, suara, dan bahkan kemampuan bereproduksi merak hijau. Di dalam penangkaran ini, perilaku merak diteliti dengan seksama. Papan besar diletakkan di atas kandang sebagai tempat bertengger, terutama di malam hari atau ketika merak ingin beristirahat di tempat tinggi.

Tempat ini tidak hanya berfungsi mirip dengan pohon di habitat aslinya, tetapi juga menawarkan rasa aman karena ketinggian secara alami menjaga dari potensi predator.

Penelitian yang dilaksanakan oleh Shuha Ma’muriyah Halim (2023) mencatat berbagai kegiatan harian merak hijau di JSP Farm Jogja. Aktivitas utama merak dewasa adalah berjalan (33%), diikuti oleh perawatan diri seperti menyisir bulu (27%), mematuk makanan (17-22%), dan duduk untuk beristirahat.

Baca Juga  Dampak Perubahan Iklim terhadap Kehidupan Nelayan di Kampung Laut Cilacap