Ketika Perundungan Menghilangkan Nyawa: Potret Kegagalan Sosial
Oleh: Dr. Fitri Ramdhani Harahap, M. Si – Sosiolog Universitas Bangka Belitung
Peristiwa meninggalnya ZH, siswa kelas 5 SD Negeri di Bangka Selatan, bukan sekadar kabar duka biasa. Ia adalah cermin dari keretakan sistem sosial kita dalam melindungi anak di lingkungan yang seharusnya paling aman: sekolah.
Korban sempat mengalami keluhan muntah, sakit kepala, dan perut, setelah dugaan perundungan yang dialaminya. Ia meninggal dunia pada 27 Juli 2025 di rumah sakit setelah tiga hari dirawat.
Meski pihak sekolah menyatakan bahwa hanya terjadi perundungan verbal, keluarga korban menolak narasi itu. Mereka menilai, tekanan psikologis yang dialami ZH bukan perkara sepele dan tak bisa lagi dianggap sekadar “anak-anak yang bermain”.
Jika kita melihat kasus ini dari perpektif sosiologis, khususnya dengan meminjam teori ekologi sosial Bronfenbrenner, maka perundungan bukan sekadar permasalahan individu, melainkan hasil dari interaksi antarlapisan lingkungan sosial.
Dalam mikrosistem, yakni lingkungan terdekat anak (kelas, guru, teman), terlihat jelas adanya kelengahan. Sekolah seharusnya menjadi tempat membentuk empati dan karakter, bukan arena tekanan psikis. ZH, menurut berbagai keterangan, menjadi korban ejekan, tekanan mental, dan kemungkinan penelantaran perlindungan oleh pihak sekolah.
Masalah ini diperparah oleh mesosistem hubungan antara rumah dan sekolah yang tampaknya kurang responsif. Tidak adanya mekanisme pengaduan yang bekerja, atau mungkin ketidaktahuan orang tua akan kondisi sosial anaknya di sekolah, membuat tekanan batin yang dialami korban terus terakumulasi.
Dalam eksosistem, yakni lembaga yang memengaruhi anak secara tidak langsung seperti Dinas Pendidikan, tampak reaksi defensif: klarifikasi bahwa tidak ada kekerasan fisik. Ini menunjukkan lemahnya perspektif terhadap jenis-jenis kekerasan non-fisik yang dampaknya bisa lebih membekas dan berbahaya.
